Selasa, 11 November 2014

TAFSIR TAEBAWI: OBJEK PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Al-Qur’an diyakini oleh umat Islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Ajaran dan petunjuk al-Qur’an tersebut berkaitan dengan berbagai konsep yang amat dibutuhkan oleh umat manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini dan di akhirat kelak.
Al-Qur’an berbicara tentang berbagai hal, seperti aqidah, ibadah, mu’amalah berbicara pula tentang pendidikan. Namun demikian, al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai, dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah tersebut. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general. Untuk dapat memahami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut mau tidak mau seseorang harus melewati jalur tafsir sebagaimana telah dilakukan para ulama.
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberikan peringatkan kepada keluarga dan sanak kerabat duli kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya. Jika dia memulai dengan memberikan peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik keapad mereka, dan ikut menggung kesusahan yang mereka mau menerima nasehat.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas terkait dengan obyek Pendidikan berdasarkan Al Qur’an. Yang terkandung dalam QS At Tahrim Ayat 6, QS. Asy Syu’araa Ayat 214, QS. At Taubah: 122 dan QS. An Nisaa’: 170.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusal masalah yang menjadi sorotan dalam penulisan makalah ini diantaranya:

A.    Bagaimana bunyi dan penafsiran Q.S At-Tahrim ayat 6 ?
B.     Apa Asbaabun-nuzul Q.S At-Tahrim ayat 6 ?
C.     Bagaimana bunyi dan penafsiran Q.S As-Syu’aro ayat 214 ?
D.    Apa Asbaabun-nuzul Q.S As-Syu’aro ayat 214 ?
E.     Bagaimana bunyi dan penafsiran Q.S At-Taubah ayat 122 ?
F.      Bagaimana Asbaabun-nuzul Q.S At-Taubah ayat 122 ?
G.    Bagaimana bunyi, penafsiran, serta Asbaabun-Nuzul Q.S An-Nisa ayat 170 ?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah makalah ini maka pokok yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
A. Menyebutkan dan menjelaskan Q.S At-Tahrim ayat 6.
B.  Menjelaskan Asbaabun-nuzul Q.S At-Tahrim ayat 6.
C.  Menyebutkan dan menjelaskan Q.S As-Syu’aro ayat 214.
D. Menjelaskan Asbaabun-nuzul Q.S As-Syu’aro ayat 214.
E.  Menyebutkan dan menjelaskan Q.S At-Taubah ayat 122.
F.   Menjelaskan Asbaabun-nuzul Q.S At-Taubah ayat 122.
G. Menyebutkan dan menjelaskan bunyi, tafsir, Asbaabun-Nuzul Q.S An-Nisa ayat 170.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Q.S AT-TAHRIM AYAT 6


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”



*      ISI KANDUNGAN SURAT AT TAHRIM AYAT 6
Ayat diatas menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula di rumah. Ayat di atas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan puasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas kelakuannya. Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis.

Berikut adalah beberapa pelajaran yang dapat diambil dari surat at-tahrim ayat 6:

1.    Perintah Taqwa Kepada Allah SWT dan berdakwah
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka. Api neraka disediakan bagi para kafir / pendurhaka yang tidak mau taat kepada Allah dan yang selalu berbuat maksiat.
Oleh karena itu kita diwajibkan oleh Allah untuk taat kepada-Nya supaya selamat daripada siksa-Nya. Caranya membina diri kita terlebih dahulu dalam mendalami akidah dan adab islam kemudian setelah kita mampu melaksanakan maka kita wajib mendakwahkan kepada yang lain yaitu orang-orang terdekat kita / keluarga yaitu orang tua, istri, anak, adik, kakak dan karib kerabat.
2.    Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka
Banyak sekali amalan shalih yang menjadikan seseorang masuk surga dan dijauhkan dari api neraka, misalnya bersedekah, berdakwah, berakhlaq baik, saling tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan shalat dan bersabar.
3.    Pentingnya pendidikan islam sejak dini 
Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Banyak orang tua “salah asuh” kepada anak sehingga perkembangan fisik yang cepat diera globalisasi ini tidak diiringi dengan perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak sehingga banyak prilaku kenakalan-kenalakan oleh para remaja.
Sebagai orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah. Rasulullah juga memeberitahu betapa pentingnya / Urgensimendidikanaksejakdini, dalam hadits Rasulullah SAW :
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang yahudi atau seorang nasrani atau seorang majusi”. (HR.Bukhari)
Dari hadits di atas jelaslah bahwa setiap bani adam yang terlahirkan di dunia ini dalam keadaan fitrah (dalam keadaan islam), karena sesungguhnya setiap bani adam sebelum ia terlahirkan ke dunia (masih dalam kandungan), ia sudah berikrar dengan kalimat syahadat yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sedangkan yang menjadikan anak itu menjadi seorang yahudi, nasrani, dan majusi melainkan itu semua karena peranan dari kedua orang tuanya.

B.     ASBAABUN-NUZUL Q.S AT-TAHRIM AYAT 6
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke-6 ini turun, Umar berkata : ”Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW, menjawab : ”Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah cara meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu di jaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya”. Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua itu tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at.

C.    Q.S AS-SYU’ARO AYAT 214

Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.

*      ISI KANDUNGAN Q.S AS-SYU’ARO AYAT 214
Al-Quran Surat Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi. Selain itu Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan.
ayat As-syuaraa’ ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”
Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia. Selain itu Adapun dasar operasional pendidikan yang harus kita ketahui terdiri atas, Dasar historis, Dasar social, Dasar ekonomi, Dasar politik dan administrative, Dasar psikologis , Dasar filosofis. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga (orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan, hal ini menunjukkan orangtua mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka. Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
”Al Aqrobyn” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini bukan berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib, tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam.

D.    ASBAABUN-NUZUL Q.S ASY-SYU’ARO 214

Ketika ayat ini turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar 'Ady dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi SAW bersabda: "bagaimana pendapat kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?" mereka berkata: "Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran". Lalu Nabi bersabda: "Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih". Abu Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi SAW berkata: "celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami? Maka turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab" (HR.Bukhori, Muslim, ahmad, dan lain-lain melalui ibn abbas(. Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan.Ini berarti Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW, karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.

E.     Q.S AT-TAUBAH AYAT 122

Artinya : ”Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Tafsir Mufradat
نفر – Nafara     : berangkat perang
لولا  – Laula     : Kata-kata yang berarti anjuran dan dorongan melakukan sesuatu yang disebutkan sesudah kata-kata tersebut, apabila itu terjadi dimasa yang akan datang. Tapi “Laula” juga berarti kecemasan atas meninggalkan perbuatan yang disebutkan sesudah kata itu, apabila merupakan hal yang telah lewat. Apabila hal yang dimaksud merupakan perkara yang mungkin dialami, maka bisa juga ”Laula”, itu berarti perintah mengerjakannya.
الفرقة  - Al  Firqah        : kelompok besar
الطائفة – At- Ta’ifah      : kelompok kecil
انذره – Anzarahu           : menakut-nakuti dia.
حذره – Hazirahu          : berhati-hati terhadapnya.
*      ISI KANDUNGAN Q.S AT TAUBAH AYAT 122
Ayat tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya ditempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang-orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mu’min.
*      Nilai Tarbawi
1.      Kewajiban mendalami agama dan kesiapan untuk mengajarkannya.
Maksudnya, tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan perjuangan. Karena menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban sehinnga menuntut ilmu mempunyai derajat yang sangat tinggi. sehingga di sejajarkan dengan orang yang perang dijalan Allah.
2.      Hasil dari pembelajaran itu tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi diharapkan mampu untuk menyampaikan terhadap orang lain. 

F.     ASBAABUN-NUZUL Q.S AT-TAUBAH 122
Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian Nabi saw. mengirimkan syari’ahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi ke medan perang semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan suatu kabilah di antara mereka beberapa orang beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat untuk memperdalam pengetahuan mereka yakni tetap tinggal di tempat mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi saw tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu ghazwah.

G.    Q.S AN-NISA AYAT 170

Artinya : Wahai manusia ! Sungguh, telah datang Rasul (Muhammad) kepadamu telah (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah (kepadanya), itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Allah maha mengetahui,  Maha bijaksana”

Dalam Qs. An-Nisa : 170 disebutkan bahwa “Hai manusia, telah datang seorang rasul yang sempurna untukmu, Dia membawa al-Qur’an kitab yang baik. Secara eksplisit terlihat bahwa objek pendidikan dalam ayat ini adalah manusia. 
Manusia dalam ayat ini, adalah objek utama yang dituju sedangkan nabi Muhammad perantara penyampai amanat yang berasal dari subjek utama yaitu Allah SWT.
An-Nisa ayat 170 menjelaskan bahwa kedatangan Rasulullah adalah benar dengan membawa sesuatu yang hak dari Tuhan yang sebelumnya telah diketahui ahlul kitab, manusia selaku objek pendidikan diperintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. 
Apabila manusia tetap dalam kekafirannya dan tidak mau beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan azab dan memberi pembalasan terhadap kekafirannya. Allah adalah pemilik singgasana langit dan bumi serta menguasai, Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.
*      Ajaran yang terkandung :
o   Menyatakan telah datang seorang Rasul dengan membawa kebenaran dari Tuhan, yaitu al-Qur’an.
o    Perintah untuk beriman kepada Allah karena iman itu menentramkan dan menyucikan hati
o   Menjelaskan bahwasannya jika kita tidak beriman Allah akan mengazab dan memberi balasan terhadap kekafiranmu.
o   Allah maha mengetahui dari segala perbuatan-Nya dan segala hukum-Nya.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

*      Dalam QS At Tahrim Ayat 6 ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
*      Dalam QS. Asy Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam ayat ini diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada azab Allah Swt.
*      Dalam QS. At Taubah: 122 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah lebih khusus yakni sebagian dari orang-orang mukmin.
*      Dalam QS. An Nisaa’: 170 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah seluruh manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.



1 komentar: