BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Segala puji bagi Allah swt.yang maha
mengetahui segala sesuatu yang lahir maupun batin. Kepunyaan Allah langit
dan bumi, segala yang ada didalamnya dan diantara keduanya, Allah mengatur
perputaran dan sistem antara masing-masing benda dan makhluk dengan ilmu-Nya,
memberi pelajaran dan kemudahan bagi manusia yang memperhatikan dengan
akalnya.Diciptakan Allah manusia yang merupakan manifestasi
keagungan Allah, diajarkan-Nya ilmu yang bermanfaat untuk mengenal Allah, dengan
demikan Allah dikenal yang memberi efek bagi eksistensi manusia dibumi.
Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw.
Junjungan manusia dan pembawa risalat tauhid untuk kebahagian manusia dunia dan
akhirat.
Dengan ilmu
Allah menunjukkan dirinya diantara tanda-tanda alam yang terhampar dipermukaan
bumi, dan yang diwahyukannya kepada rasul-rasul-Nya yang mulia.Ilmu membawa
ketinggian derajat disamping iman. Sungguh beda orang berilmu dengan yang tidak
berilmu. Allah membuka tabir (rahasia) hidup dengan ilmu, hanya orang yang
berilmu yang dapat mensyukuri nikmat yang diberikan Allah.. Dengan
demikian ilmu adalah keutamaan, kemuliaan, dan orang yang yang berilmu (alim),
adalah yang tunduk kepada Tuhannya. Ilmu dapat membelah samudra luas, membelah jagat
raya, membongkar kedalaman bumi, hasilnya juga menimbulkan ilmu baru yang
semakin membuka rahasia alam semesta yang terlihat menundukkan manusia kepada
Tuhan.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaiamana
bunyi Hadits tentang penguasaan ilmu dan pemahamannya ?
2. Bagaimana
bunyi hadits tentang harus menghayati apa yang diajarkan ?
3. Bagaimana
bunyi hadits tentang mampu mengendalikan diri ?
C. Tujuan
Penulisan
Hadits
no 3 MAMPU MENGENDALIKAN DIRI
عَنْ أَبِى يَعْلٰى شَدَّادِ بنِ
أَوْسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عن النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ , وَالْعَاجِزُ
مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا , وَتَمَنَّى عَلَى الله . رَوَاهُ التُّرْمُذِى,
وقال :
حَدِيْثٌ حَسَنٌ . قَالَ التُّرْمُذِى وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاء : مَعْنَى
دَانَ نَفْسَهُ حَاسَبَهَا.
Dari Abi Ya’la Syaddad bin Aus (رَضِىَ الله عَنْهُ), Rasulullah (صلّى
الله عليه وسلّم) bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang bisa mengendalikan
hawa nafsunya dan berbuat untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya. Orang
yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan pada
(kemurahan) Allah” (HR Turmudzi, dia berkata: Hadits ini hasan)
MUFRADAT
- الْعَاقِلُ= الْكَيِّسُ : orang cerdas, orang berakal
- الْعَاجِزُ : orang lemah
- دَانَ نَفْسَهُ = حَاسَبَهَا : merendahkan hawa nafsunya = mengendalikan, menguasainya
- تَمَنَّى عَلَى الله : berangan-angan mendapat kemurahan Allah atau keberuntungan di akhirat
SYARAH HADITS
Akal
dan kecerdasan adalah salah satu keistimewaan yang dikaruniakan Allah (سبحانه
وتعالى) bagi manusia, yang membedakannya dengan makhluk lain. Kecerdasan ini
pula yang dapat mengantarkan manusia ke arah kemuliaan, baik kemuliaan dunia
maupun akhirat. Di dunia ini, para ilmuwan dan pemimpin yang cerdas mendapat
kemuliaannya karena dapat mempengaruhi kemajuan dan kesejahteraan dunia. Di
sisi lain, akal manusia juga bisa menjerumuskan ke dalam kejahatan dan kesengsaraan.
Mengapa demikian?
Untuk
memahami hal ini, ada baiknya kita merenungkan kembali karakter manusia dan
tujuan penciptaan manusia. Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia di
antara makhluk-makhluk lain. Dari segi lahiriahnya (wujud fisiknya) manusia
adalah makhluk Allah yang paling indah. Dari segi kedudukannya di tengah
makhluk lain, manusia adalah yang paling istimewa. Allah (سبحانه وتعالى)
berfirman dalam Al-Qur’an:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya" (At-Tiin:4)
Bahkan
manusia mendapat mandat dari Allah untuk menjadi penguasa atau pemimpin di
bumi, sebagaimana firman Allah:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Al Baqarah:30)
Menjadi
khalifah di bumi! Alangkah mulia kedudukan ini. Bahkan para malaikat pun
terheran-heran pada saat Allah (سبحانه وتعالى) memperkenalkan makhluk baru
bernama Adam )عليه السلام) beserta sifat-sifatnya, makhluk baru dari jenis
manusia itu dikehendaki oleh Allah untuk menjadi penguasa bumi. Malaikat dalam
keheranannya bertanya kepada Allah: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah...” . Memang wajar pertanyaan para malaikat. Sebagai penguasa bumi,
manusia memiliki potensi positif dengan kecerdasan akal dan fitrah keimanannya.
Di sisi lain manusia juga memiliki potensi negatif berupa hawa nafsu. Kedua
potensi ini memunculkan dinamika pada diri manusia dan kehidupan di dunia ini.
Hadits
ini memberi batasan tentang makna “cerdas” dengan kalimat yang sederhana dan
singkat. Siapakah orang yang cerdas itu? Rasulullah (صلّى الله عليه وسلّم)
bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang bisa mengendalikan hawa nafsunya
dan berbuat untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya.” Mari kita kaji
bersama-sama kalimat Rasulullah yang penuh makna ini! Apakah batasan Rasulullah
tentang kecerdasan sesuai dengan batasan yang diberikan oleh para guru kita di
sekolah?
Salah
satu ciri orang yang cerdas menurut hadits ini adalah “yang bisa
mengendalikan hawa nafsunya”. Mengalahkan hawa nafsu berarti kemampuan
seseorang untuk mengelola dan mengontrol emosinya. Dalam ilmu psikologi,
kemampuan seperti ini termasuk dalam aspek kecerdasan emosi (Emotional
Quotient atau EQ).
Kecerdasan
emosi merupakan salah satu potensi pikiran manusia disamping kemampuan
intelektektual (Intelligence Quotient atau IQ). Dalam rentang waktu dan
sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan
daya nalar (IQ). Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Pola pikir dan
cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang
cerdas tetapi sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan kemampuan
nalarnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan
dan kehidupan sosialnya. Perkembangan sejarah mengungkapkan bahwa kecerdasan
emosional lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Ungkapan
“yang bisa mengendalikan hawa nafsunya” juga mengisyaratkan aspek
ketaqwaan pada diri seseorang. Seorang muttaqin senantiasa berupaya menjauhi
ma’shiat yang dipengaruhi hawa nafsu karena seorang muttaqin mencari keridhoan
Allah. Aspek ketaqwaan ini dalam kaitannya dengan potensi manusia dikenal
sebagai kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient atau SQ). Kecerdasan
spiritual membuat seseorang mampu memaknai setiap kegiatannya sebagai ibadah,
demi kepentingan umat manusia dan mencari keridhoan Allah(سبحانه وتعالى).
Hal
ini diperjelas dalam hadits ini, bahwa ciri orang yang cerdas adalah “berbuat
untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya”. Poin ini mengisyaratkan
seorang yang tahu tujuan penciptaannya sebagai manusia. Orang yang mengetahui
tujuan hidupnya akan memiliki pandangan atau visi yang jauh ke depan. Dia akan
menata pola hidupnya dengan cerdas penuh perencanaan demi tercapai tujuan hidupnya.
Seorang mukmin yang cerdas tahu bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, bahwa
hidup yang sejati dan kekal adalah kehidupan akhirat. Dia memiliki kecerdasan
spiritual atau kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap tindakan
dan perilakunya. Dia akan berusaha agar tindakan atau jalan hidupnya lebih
bermakna dan senantiasa mencari kerihoan Allah(سبحانه وتعالى).
Hadits
ini dengan jelas mengungkapkan bahwa orang yang cerdas adalah yang
memiliki bukan hanya kecerdasan nalar (IQ) tetapi juga kecerdasan emosi
(EQ) yang diseimbangkan oleh kecerdasan spiritual (SQ). Ungkapan yang
disabdakan Rasulullah (صلّى الله عليه وسلّم) pada abad ke-14 pada masa ilmu
psikologi belum berkembang, namun ungkapan itu terbukti sejalan dengan
psikologi modern! Luar biasa bukan?
Berbeda
dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan
emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) justru lebih mungkin untuk
dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan
untuk meraih prestasi hidup dan keridhoan Allah(سبحانه وتعالى). Hal ini membuka
peluang bagi siapa saja untuk menjadi orang cerdas, misalnya melalui pendidikan
dan lingkungan yang Islami.
Sebagai
kebalikan dari orang cerdas, hadits ini menggambarkan orang “bodoh” sebagai
orang “lemah”, yaitu “yang mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan pada
(kemurahan) Allah” . Penggambaran ini sebagai perbandingan yang seimbang
dengan penggambaran orang cerdas pada hadits ini. Jadi sifat “cerdas” atau
“bodoh” di sini bukan dalam arti ukuran kecerdasan nalarnya atau menurut
istilah sekarang nilai IQ-nya. Namun “cerdas” atau “bodoh” di sini dititik
beratkan pada karakter pribadi dan ketaqwaannya.
Orang
yang selalu mengikuti hawa nafsunya adalah orang bodoh, betapapun dia memiliki
IQ yang tinggi. Hawa nafsu dapat membawa kehancuran dan kekalahan pada setiap
orang dan bahkan kehancuran bangsa. Seorang yang cerdas tapi malas, ceroboh
atau pemarah bukan mustahil akan dikalahkan oleh pesaingnya yang berotak
pas-pasan tetapi tekun, ulet dan sabar. Lihatlah para koruptor, para pembunuh,
penjahat, tidak sedikit di antara mereka yang dikaruniai otak yang cerdas. Para
ilmuwan yang tidak dilandasi sikap jujur dan pengabdian, tidak mustahil
melahirkan teknologi yang menghancurkan umat manusia.
Orang
bodoh juga digambarkan oleh Rasulullah dengan ciri selalu “berangan-angan
pada (kemurahan) Allah” . Kelemahan orang bodoh dalam melawan hawa nafsunya
sendiri memunculkan sikap sembrono dan seenaknya dalam menjalani hidup. Dia
hanya memikirkan kehidupan duniawi yang enak dan mudah. Mengabaikan perintah
Allah (سبحانه وتعالى) dan melanggar larangan-Nya tanpa rasa takut pada
kemurkaan Allah. Kalaupun sesekali dia mengingat Allah, dia tidak bersegera
taubat tetapi hanya berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya!
Dia berangan-angan mendapat keberuntungan di akhirat tanpa mau berusaha mencari
keridhoan Allah! Betapa tolol sikap ini... sikap orang yang lemah, malas dan
lalai... Semoga kita terlindung dari sikap semacam ini seraya berdo’a:
اللّٰهُمَّ إنِّى أعُوذُ بِك مِنَ
الْعَجْز والْكَسَلِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan
malas…”
Amiin…
FIQH HADITS
- Kecerdasan seorang mukmin bukan diukur dari kecerdasan akal pikirannya tetapi dari karakter kepribadiannya dan muraqabahnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
- Seorang mukmin yang cerdas memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsunya, dengan kata lain memiliki pribadi taqwa karena memperturutkan hawa nafsu bertentangan dengan ketaqwaan.
- Seorang mukmin yang cerdas tahu bahwa hidup yang sejati dan kekal adalah kehidupan akhirat sehingga dia bertindak/beramal untuk kepentingan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar