Selasa, 11 November 2014

HADITS TENTANG MENANGISI MAYAT, MENYEGERAKAN, MENGUBURKAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Seiring dengan perkembangan Zaman dan teknologi, banyak manusia yang tertipu oleh daya tarik dunia ini yang sesungguhnya dunia ini hanya tempat persinggahan kita yang sementara sedangkan tempat kita yang abadi dan kekal adalah di akhirat kelak. Banyak orang yang tidak percaya akan adanya akhirat sehingga menyepelekan masalah yang satu ini, ada pula yang dikarenakan perkembangan zaman hingga banyak orang melupakan akan akhirat sehingga kondisi seperti ini akan terjadi terus menerus dan turun temurun yang mengakibatkan rusaknya akidah-akidah Islam yang tidak lain yang merusaknya adalah orang Islam itu sendiri. Lain juga akan banyak generasi muda yang sebenarnya orang Islam tetapi tidak tahu bagaimana caranya mengurus jenazah.
B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana Hadits tentang menangisi mayat?
b.      Bagaimana hadits tentang meratapi mayat?
c.       Bagaimana hadits tentang menyegerakan menguburkan mayat?
d.      Bagaimana hadits tentang keutamaan mengurus mayat?

C.     Tujuan Penulisan
a.       Menjelaskan Hadits tentang menangisi mayat.
b.      Menjelaskan hadits tentang meratap mayat.
c.       Menjelaskan hadits tentang menyegerakan menguburkan mayat.
d.      Menjelaskan hadits tentang keutamaan mengurus mayat.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    HADITS TENTANG MENANGISI MAYAT
حديث عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، يَعُودُهُ، مَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ، وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ، فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ، فَقَالَ: قَدْ قَضَى قَالُوا: لاَ يَا رَسُولَ اللهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم؛ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَكَوْا، فَقَالَ: أَلاَ تَسْمَعُونَ، إِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلاَ بِحُزْنِ الْقَلْبِ، وَلكِنْ يُعَذِّبُ بِهذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
أخرجه البخاري في: 23 كتاب الجنائز: 54 باب البكاء عند المريض
Artinya: (532). “Abdullah bin Umar r. a. berkata: Sa'ad bin Ubadah r. a. sakit, maka Nabi saw. pergi menjenguk (sambang) bersama Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas'uud r.a. Ketika Nabi saw. masuk, sedang Sa'ad dikerumuni oleh keluarganya, maka Nabi saw. tanya: Apakah sudah mati? Jawab mereka: Belum, ya Rasulullah. Lalu Rasulullah saw. menangis, ketika orang-orang melihat Nabi saw. menangis, mereka juga ikut menangis, lalu Nabi saw. bersabda: Sukakah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa karena air mata atau sedihnya hati, tetapi Allah akan menyiksa karena ini sambil menunjuk lidahnya atau merahmati. dan sesungguhnya mayii itu akan tersiksa karena tangisan keluarganya atasnya.” (Bukhari. Muslim).

.
Penjelasan Hadits

Menangisi mayat  atau orang yang telah meninggal kerap kali terjadi bukan hanya dari umat muslim melainkan dialami oleh seluruh manusia.
Ketika seorang muslim menerima suatu musibah, baik yang menimpa jiwanya, hartanya, atau keluarganya, maka dia akan mengembalikan hal itu kepada Allah dan akan merelakan serta akan mengucapkan kalimat istirja:
“Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiu`uun`”(kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya) dan berdoa “Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan berikan aku pengganti yang lebih baik”
Kita tidak dilarang untuk menangisi mayat, selama itu tidak berlebih-lebihan
.
Rasulullah saw dahulu pernah menangisi kematian beberapa orang, saat kematian anaknya  Ibrahim, ketika Hamzah pamannya syahid, dan ketika beliau mengunjungi Sa`d bin Ubadah. Beliau bersabda,
“Sesungguhnya wajar jika mata menangis, hati bersedih, dan kita hanya diperbolehkan mengatakan hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah swt. Sesungguhnya kami semua bersedih atas kepergianmu wahai Ibrahim”
Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengazab berdasarkan air mata atau hati yang sedih. Namun, Dia mengazab atau mengasihi berdasarkan ini,” beliau menunjuk lidanya dan melanjutkan sabdanya, “Sesungguhnya seorang mayat akan disiksa disebabkan tangisan keluargnya untuknya”
Sayyidah `Aisyah juga pernah menuturkan riwayat seperti ini dan dia berkata, “Cukuplah al-Qur an bagi kalian, karena orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. Kemudian `Aisyah berkata,

“Pada suatu ketika Rasulullah
SAW. melewati jenazah seorang perempuan Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya, beliaupun bersabda, ‘Mereka menangisi perempuan itu, padahal dia akan diazab di kuburnya”

Ibnu Abbas r.a pernah menyatakan dalam sebuah riwayat tentang `Aisyah
R.A:  “Allah lah yang membuat orang tertawa dan membuat orang menangis” Maksudnya adalah, jika manusia yang hidup saja tidak memiliki hak menentukan tangis dan tawa, maka bagaimana mungkin hal itu akan menyebabkan seseorang yang sudah meninggal dapat diazab karenanya.

B.     HADITS TENTANG MERATAPI MAYAT
Nabi  SAW. melaknat orang yang suka melakukan ratapan berlebihan kepada mayit.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:



Artinya: “Wanita yang meratap, jika tidak bertaubat sebelum ia meninggal, kelak pada Hari Kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian dari cairan tembaga dan mantel dari kudis dan dengan tubuh yang penuh luka-luka.”( HR. Muslim, no. 934.)





Dalam hadits lain:


Atinya: "Dari Umar Al-khatab R.A. dia berkata bahwa Nabi SAW. Bersabda : "seorang mayat akan di azab kuburnya karena di ratapi."

Penjelasan hadits
Salah satu kemungkaran besar yang dilakukan oleh sebagian orang adalah meratapi jenazah secara berlebihan. Misalnya dengan menangis sejadi-jadinya, berteriak sekeras-kerasnya, meratap mengharu-biru kepada mayit, memukuli muka sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian, menggunduli rambut, menjambak-jambak atau memotongnya.
 Semua perbuatan tersebut menunjukkan ketidakrelaan terhadap taqdir, di samping menunjukkan tidak sabar terhadap musibah. enangisi orang yang mati dengan melampaui batas kewajaran sehingga seolah-olah tidak menerima ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap orang yang meninggal dunia adalah perbuatan yang dilarang. Namun jika sekedar menangis dan bersedih hati tidak termasuk perbuatan nihayah, sebab sedih dan tangis merupakan fitrah setiap manusia.





C.     HADITS TENTANG MENYEGERAKAN MENGUBURKAN MAYAT
حديث أَبِي هُرَيْرَةً رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا، وَإِنْ يَكُ سِوَى ذلِكَ، فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ
أخرجه البخاري في: 23 كتاب الجنازة: 52 باب السرعة بالجنازة
Artinya: (550). “Abu hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Segerakanlah penguburan janazah, maka jika ia baik, maka baiklah yang kamu ajukan, dan jika selain dari itu, maka kejahatan yang kamu turunkan dari bahumu”. (Bukhari, Muslim).
Disyariatkan kepada kaum muslimin untuk menyegerakan penguburan jenazah seorang muslim yang telah diketahui dengan pasti kematiannya. Sebab jika muslim itu orang yang shalih maka ia akan segera mendapat kebaikan dari hasil usaha yang ia telah kerjakan di dunia, berupa berbagai kenikmatan dan kelapangan di dalam kuburnya. Dan merekapun telah menunaikan kewajiban mereka di dalam menyelenggarakan penguburan dengan mendapatkan balasan kebaikan berupa pahala sebesar satu atau dua qirath atau yang lainnya. Namun jika yang mati itu orang kafir atau muslim yang tidak baik keislamannya, maka iapun akan segera balasan keburukan dari sebab apa yang ia kerjakan berupa aneka siksaan dan himpitan di dalam kuburnya. Dan merekapun dengan menguburkannya berarti telah menghilangkan keburukan dari pundak-pundak mereka.



D.    HADITS TENTANG KEUTAMAAN MENGURUS JENAZAH
Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.









"Barang siapa yang memandikan jenazah/ mayit dan ia menyembunyikan cacat jenazah tersebut, niscaya dosanya diampuni sebanyak 40 dosa. Dan barang siapa yang mengkafani jenazah/ mayit, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya kain sutra yang halus dan tebal dari sorga. Dan barang siapa yang menggali kuburan untuk jenazah/ mayit, dan dia memasukkannya ke dalam kuburan tersebut, maka dia akan diberi pahala seperti pahala membuatkan rumah, yang jenazah/ mayit itu dia tempatkan (di dalamnya) sampai hari kiamat". [HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim)





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Bahwasanya semua makhluk yang bernyawa itu semuanya akan mengalami yang namanya kematian. Oleh karena itu kita semua harus mempersiapkan bekal dari dunia ini untuk mempertanggung jawabkan di akhirat kelak. Oleh karena itu pula kita sebagai umat islam harus saling membantu satu sama lain. Seperti mengurus jenazah yang hukumnya fardu kifayah.
            Hidup dan mati adalah hak Allah swt. Apabila Allah swt telah menghendaki kematian seseorang, tidak seorang pun dapat menghindari dan lari dari takdir-Nya.Manusia adalah ciptaan Allah swt yang sempurna diantara ciptaan Allah swt yang bagus. Allah swt akan memulihkan manusia yang beramal saleh dan memberi balasan atas apa yang dilakukan di dunia.
             Yang beramal saleh akan mendapat balasan dengan kebaikan dan barakah-Nya. Sementara itu, yang tidak beramal saleh akan menerima azab-Nya. Orang yang mati wajib dihormati karena ia adalah makhluk Allah swt yang mulia. Oleh sebab itu, sebelum jenazah meninggalkan dunia menuju alam baru (kubur) hendaklah dihormati dengan cara dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan. Hukum mengurus, mengantarkan, dan mendoakan jenazah adalah sunnah.Pengurusan mayat disunnahkan dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang karena roh jenazah masih menyaksikan keluarga yang ditinggalkan.




DAFTAR PUSTAKA
·          Sabiq, sayyid. FIQIH SUNAH 2 .2010. Jakarta. Darul Fath.
·         Az-Zabidi, Imam. RINGKASAN SHAHIH AL-BUKHARI. 1997. Bandung. Mizan.

ISLAMISASI DI NUSANTARA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dibeberapa catatan sejarah nasional dilaporkan bahwa,masyarakat Indonesia mengalami beberapa tahapan atau periodesasi dalam penyebaran agama. Periodesasi itu sangat bergantung pada siapa yang menjadi raja atau penguasa di wlayah kekuasaannya. Paling tidak ada tiga kerajaan besar yang sangat berpengaruh dan pernah menguasai kepulauan Nusantara ini. Ketiga kerajaan itu masing-masing adalah:
1.      Kerajaan sriwijaya yang menguasai wilayah kekuasaan di daertah Sumatera Selatan
2.      Kerajaan Siliwangi yang menguasai wilayah Jawa Barat dan sabagian Lampung
3.      Kerajaan Majapahit yang menguasai eilayah Jawa,terutama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah
Dilaporkan juga oleh para sejarawan bahwa,ketiga kerajaan besar tersebut pada masanya sangat berperan dalam melakukan penyebaran agama yang dianut oleh diri dan keluarganya kepada masyarakat. Kenyataan ini juga dilakukan oleh kerajaan muslim yang berkuasa pada masa jayanya dalam menyebarkan agama Islam bagi masyarakatnya. Dan salah satu sarana yang digunakan dalam memperluas jaringan informasi dan pengetahuan keagamaan yang dianutnya adalah lembaga pendidikan,baik pendidikan dalam bentuk formal ataupun non formal. Karenanya Para raja dengan sistem kerajaannya itu,begitu juga dengan raja-raja muslim,dalam setiap pertemuan dengan masyarakatnya seringkali memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikan untuk dijadikan sebagai tempat penyampaian informasi progam kerja sekaligus sebagai sarana penyebaran agama yang dianutnya.[1]
Pada bagian ini akan diuraikan tentang periodesasi penyebaran dan pendidikan Islam yang dilakukan para raja muslim di wilayah kekuasaannya masing-masing.
Sejarah pendidikan islam di Indonesia sebelum indonesia merdeka,adalah berdasarkan kedaerahan dan belumlah berpusat seperti sekarang ini.Sebab itu tiap-tiap daerah melancarkan pendidikan dan pengajaran islam menurut keadaan daerahnya masing-masing.
Pendidikan islam di Jawa berlainan keadaannya dengan di Sumatera dan berlainan pula dengan di Sulawesi,Kalimantan,Maluku,dan lain-lain.
Sebagaimana juga di Sumatera,maka agama islam mulai tersiar di Jawa dari pelabuhan dan bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dengan luar negeri, misalnya Sunda Kelapa (Jakarta), Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan lain-lain.
Para pedagang Indonesia di tempat-tempat tersebut dan sekitarnya(tahun 1400) sudah mendengarkan dan mengetahui alakadarnya tentang didikan dan ajaran islam.Pedagang-pedagang Jawa(Indonesia) yang pulang pergi berlayar antara Jawa dan Maluku (yang telah menjadi pusat penyebaran islam), banyak juga yang telah memeluk agama islam.Dengan demikian keluarga mereka di bandar-bandar tersebut memeluk agama baru pula..Pedagang-pedagang asing pun,seperti bangsa Tionghoa, banyak pula yang sudah memeluk agama islam,sehingga lambat laun perniagaan di pulau Jawa pindahlah ke tangan kaum muslimin.
Bupati-bupati di pesisir dan orang-orang bangsawan banyak pula yang masuk agama Islam.Biasanya,jika para bupati dan kaum bangsawan telah memeluk agama islam,maka mudah sekali agama itu meluas di kalangan rakyat.
Dengan demikian,banyaklah bandar-bandar berpenduduk kaum muslimin.


1.2.Rumusan Masalah
A.    Bagaimana keadaan masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi?
B.     Bagaimana sejarah masuknya Islam di Nusantara?
C.     Bagaimana proses Islamisasi di Nusantara?
D.    Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara?
E.     Siapakah tokah yang berperan penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia?
F.      Apa saja teori-teori masuknya Islam di Nusantara?
1.3.Tujuan Penuliasan
A.    Menjelaskan keadaan masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi.
B.     Menjelaskan sejarah masuknya Islam di Nusantara.
C.     Menjelaskan proses Islamisasi di Nusantara.
D.    Menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara.
E.     Menyebutkan tokoh yang berperan penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia.
F.      Menyebutkan teori-teori masuknya Islam di Nusantara.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi
Tercatat dalam sejarah bahwa,pada tahun 1500 S.M terjadi perpindahan bangsa Asia Tenggara menuju ke selatan sampai ke Malaya dan berakhir di kepulauan Nusantara. Di kepulauan Nusantara inilah,mereka menyebar dan sebagian ada yang menetap di berbagai pelosok,pembauran dan pembaharuan yang dilakukan antara mereka dengan penduduk asli inilah yang kemudian dikenal sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Keahlian yang dimiliki nenek moyang kita dan hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Indonesia adalah,antara lain bercocok tanam,berburu membuat perahu dan melaut menjadi nelayan. Namun,dalam sejarah peradaban Islam,mereka masih disebut sebagai masyarakat primitif (al-jahl). Istilah primitif adalah sebutan bagi masyarakat yang belum bisa baca tulis akasara.
            Agama nenek moyang kita saat itu adalah,mempercayai roh atau jiwa (Latin=anima). Mengapa mereka mempercayai adanya roh atau jiwa? Karena yang nampak dan dialamimya saat itu baru berkisah tentang peristiwa hidup dan atau mati, mimpi atau sesuatu yang mengganggu kehidupannya. Kepercayaan mereka terhadap  anima inilah yang disebut sebagai animisme (anima=jiwa,dan isme=kepercayaan). Kepercayaan itu meliputi:
a.       Bahwa di dunia tidak ada benda yang tidak berjiwa,kesemuanya itu hidup karena jiwa;
b.      Bahwa yang terpenting adalah jiwa dan bukan benda (inateri),karena tanpa jiwa maka semuanya akan mati;
c.       Bahwa makhluk yang tidak berwujud itu ada,yang disebut jin,atau hantu dan lainnya yang terdapat di mana-mana;
d.      Bahwa matahari,bulan,bintang-bintang yang bergerak dan  bercahaya karena mempunyai jiwa.
Berdasarkan pada keeempat hal tersebut di atas,dapat dikemukakan bahwa animisme adalah suatu bentuk kepercayaan terhadap roh yang bersemayam,tidak hanya pada manusia saja tetapi juga pada setiap benda disinggahi roh manusia yang telah meninggal.[2]

2.2. Sejarah masuknya Islam di Nusantara
Dibawah ini telah ditemukan beberapa pendapat mengenai masuknya islam di Indonesia, diantaranya:
Menurut pendapat yang disimpulkan dalam seminar masuknya islam ke Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada 1986, [3] Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah,atau abad ketujuh/kedelapan Masehi.Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M.
Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa agama islam masuk ke daerah Aceh pada pertengahan abad 12 Masehi.Sebagian mereka berpendapat bahwa islam telah masuk ke Aceh sebelum abad 12 Masehi.Alasannya ialah karena pada abad ke 12 itu telah banyak ahli-ahli agama yang termasyhur di aceh.Hal itu menunjukan bahwa islam telah masuk ke daerah aceh sebelu abad 12.Karena tidak mungkin islam baru masuk,lau lahir orang-orang ahli dalam islam itu.
Pendapat ini dikuatkan lagi dengan keterangan sebagian ahli sejarah,bahwa orang Arab/Islam telah mengenal pulau Sumatera dalam abad kesembilan.Oleh sebab itu banyak diantara mereka itu datang ke Sumatera dan ke pulau-pulau Indonesia yang lain untuk berniaga.Sungguh pun mereka datang ke Indonesia dengan maksud hendak berniaga,tetapi mereka tidak lupa memegang Al-Qur’an.Dalm usaha perniagaan,mereka menyiarkan agama islam kepada penduduk negeri.Dengan berangsur-angsur penduduk negeri tertarik kepada agama Islam,lalu mereka memeluk agama islam itu.Sebab itu,tidak heran,bahwa agama islam telah masuk ke daerah Aceh sebelum abad keduabelas.
            Umumnya,ahli sejarah memastikan masuk ke daerah Aceh itu dengan perjalanan Marco Polo.Dalam perjalanannya pulang ke Tiongkok,ia singgah di Aceh pada tahun 1292 Masehi.Menurut keterangannya di Perlak telah didiapatnya masyarakat yang beragama islam.Perlak adalah pelabuhan besar di Aceh pada masa itu,yang menghadap ke Selat Malaka.
Begitu juga dengan perjalanan Ibnu Bathutha,pengembara Maghribi yang masyhur (thn.725 H=1325M).Dalam perjalanannya pulang pegi ke Tiongkok,ia singgah di Pase.
Pada masa itu Pase telah menjadi kerajaaan Islam di bawah perintah Raja bernama Al-Malikuz-Zahir.Kemudian Ibnu Bathutha dalam buku perjalanannya telah menyaksikan bahwa Raja Samudera Pasai (yang terkenal dengan Jawa di tanah Arab) itu bermadzhab syafi’i.Madzhab Syafi’i yang terbesar pada zaman ituialah di Mesir.Dan raja itu selalu mengikuti musyawarah ulama-ulama Syafi’i yang ada dalam kerajaannya.[4]
2.3. Proses Islamisasi di Nusantara
Proses Islamisasi di Nusantara dilakukan dengan cara damai, diantaranya:
1.Perdagangan
Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang mempunyai peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang dari luar Indonesia maupun para pedagang Indonesia.Proses perdagangan ini melalui dua jalur,yaitu darat dan laut.

a. Jalur Darat; 
Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina.

b. Jalur Laut; 
Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay (Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.



2.Melalui Perkawinan

Para pedagang muslim yang datang di Indonesia, ada sebagian di antara mereka yang kemudian menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan yang disebut Pekojan. Perkawinan antara putri bangsawan dan pedagang muslim akhirnya berlangsung. Perkawinan ini dilakukan secara Islam, yaitu dengan mengucapkan (menirukan) dua kalimat syahadat. Upacara perkawinan berjalan dengan mudah karena tanpa pentasbihan atau upacara-upacara yang panjang, lebar, dan mendalam.

Dalam Babad Tanah Jawa,misalnya, diceritakan perkawinan antara Maulana Iskhak dan putri Raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri, sedangkan dalam Babad Cirebon diceritakan perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati.

3.Melalui Pendidikan

Pendidikan dalam Islam dilakukan dalam pondok-pondok pesantren yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Pesantren ini merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Setelah menamatkan pelajarannya di pesantren, murid-murid (para santri) akan kembali ke kampung halamannya.

4.Melalui Dakwah
Masyarakat Indonesia pada umumnya menerima agama Islam dengan cara mendengarkan dakwah dari wali, ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat.[5]
5.Melalui Akulturasi Kebudayaan
Untuk mempermudah dan mempercepat perkembangan Agama Islam juga dilakukan melalui penggabungan dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada pada suatu daerah tertentu. Misalnya pertunjukkan wayang kulit dan kesusastraan.[6]

2.4. Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara
             Setelah agama Islam banyak diminati masyarakat di beberapa daerah di Indonesia,dan tidak sedikit para penganut Hinduisme dan Buddhisme yang berpindah ke agama Islam lantaran prinsip dalam ajaran Islam yang tidak mengajarkan adanya eksplanasif,maka terciptalah suasana keakraban daiantar penganut Hinduisme dan Buddhisme. Melalui jalinan persaudaraan inilah sehingga terjadi asimilasi dan akulturasi budaya dan ajaran. Hasilnya,semakin lama persaudaraan ini terjalin dan dikembangkan maka semakin banyak para penganut agama Hindu dan Budha yang tertarik dan berpindah ke agama Islam. Sehingga di beberapa daerah-daerah tertentu,sebagian masyarakatnya telah menganut agama Islam.
            Bagi masyarakat Jawa,tidak sulit untuk berpindah agama dari agama Hindu dan Budha ke agama Islam. Karena para mubaligh menggunakan cara membiarkan sisa-sisa praktek agama lama,asal udah mengikrarkan dua kalimat syahadat sabagai tanda masuk Islam,maka keberadaannya telah menjadi komunitas ummat Islam. Itu sebabnya,tidak mengherankan jika batu nisan yang ditempatkan di atas setiap kuburan orang Islam yang meninggal,padahal batu nisan adalah tradisi agama Hindu yang kemudian dalam prakteknya telah dijadikan sebagai tradisi bagi pemeluk agama Islam.
            Pada saat yang bersamaan,krajaan Sriwijaya pada abad 7-10 M menguasai semenanjung Malaka,tetapi pada abad ke 12 kerajaan ini mulai mengalami kemunduran. Kelemahan kerajaan Sriwijaya ini dimanfaatkan oleh para pedagang muslim untuk mendukung daerah-daerah tertentu yang sistem kerajaannya telah bercorak Islam seperti antara lain Kerajaan Samudera pasai di Pesisir Timur Laut Aceh. Daerah ini sejak abad ke-7 disinggahi pedagang-pedagang muslim.

2.5. Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Islam di Nusantara
Sebagaimana diketahui,bahwa penyiaran dan penyebaran agama islam di Jawa pada zaman dahulu dipelopori oleh para mubaligh Islam yang lebih dikenal dengan sebutan “wali”. [7]Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Adapun jumlah wali yang terkenal berjumlah sembilan yang dianggap merupakan kepala kelompok dari sejumlah besar mubaligh-mubaligh Islam yang bertugas mengadakan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama islam. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.
Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.

A.    Sunan Gresik (Malik Ibrahim, Maulana)
Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi yang dalam babad Jawa disebut Makdum Brahim Asmara. Beliau adalah saudara Maulana Ishak dengan memperistri putri Campa dan melahirkan dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Syaid Aki Murtadha atau Raden Santri. Beliau adalah putra dari Raden Jumadil Qubro. Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa tahun 1404 M yang menurut Babad Tanah Jawi bukan datang dari Campa, tetapi menurut namanya beliau berasal dari Samarkandi di Asia Kecil. Pernyataan dari Babad Tanah Jawi tidak bertentangan, sebab dari Asia Kecil beliau bermukim dulu di Campa. Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam dengan cara melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat yang diajaknya. Beliau dakwah dengan diplomasi yang ulung, tidak menyinggung perasaan orang yang didakwahnya, bahkan membesarkan hati. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh syekh Maulana Malik Ibrahim. Hal ini dapat diketahui dalam kisah-kisah yang pernah dialaminya, misalnya dalam kisah tentang Kepala perampok. Maulana Malik Ibrahim tidak turun sendiri dalam menghadapinya, tetapi murid-muridnya saja dapat mengalahkan kepala perampok. Maka, dapat disimpulkan betapa saktinya dia. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik pada nisanya terdapat tulisan Arab yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang penyebar agama yang cakap dan gigih. Dalam bahasa Indonesia tulisan itu berbunyi :”inilah makam almarhum almagfur yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi pada sultan dan para menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia dan syahid cemerlangnya simbol negara dan agama” Maulana malik ibrahim terkenal dengan nama Kake Bantal.


B.     Sunan Ampel (Campa Aceh, 1401- Ampel, Surabaya 1481 M)
Nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa; ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Diantara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden yang kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, demak, Raden Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Bonang Syaridudin yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu kota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain. Ketika mendirikan Masjid tersebut, para wali mengadakan pembagian tugas. Sunan Ampel diserahi tugas memuat salah satu dari saka guru (tiang kayu raksasa) yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan oleh Sunan Kalijaga untuk tiang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh, tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat timur, Sunan Gunung Jati untuk tiang sebelah barat daya, sementara bagian-bagian lain masjid dikerjakan oleh para wali yang lain.

C.    Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465 – Tuban 1525)
Dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan merupakan Saudara sepupuh Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim (Makhdum adalah gelar yang biasa diberikan kepada seorang ulama besar di India dan berarti orang yang dihormati). Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Rukhil yang kemudian diperistri Sunan Kudus. Setelah belajar Islam di Pasai, Aceh Sunan Bonang kembali ke Tuhan, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah. Setelah sunan Ampel wafat, pesantren yang ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi kekosongan itu, Sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk membicarakan siapa yang akan memimpin pesantren tersebut. Hasil musyawarah wali memutuskan untuk mengangkat Raden Fatah menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang” Isi buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang masih tersimpan di Universitas Leiden Negeri Belanda.

D.    Sunan Giri (Blambangan, Pertengahan abad Ke-15 – Giri 1500 M)
Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata dan kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishak yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan. Salah seorang saudaranya juga termasuk Walisongo, yaitu Raden Fatah (Sunan Gunung Jati) dan ia mempunyai hubungan keluarga dengan Raden Fatah karena istri mereka bersaudara.Ketika usianya beranjak dewasa, Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta (pimpinan Sunan Ampel) dan disana berteman  baik degan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang kemudian terkenal dengan Sunan Bonang.Dalam suatu perjalanan ibadah haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan dan tasawuf. Disini Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni sehingga gurunya menganugrahinya gelar Ai Al Yaqin karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama. Misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda kesultanan Demak Bintoro (Kesultanan Demak) sebab setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya.

E.     Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar Tahun 1470 Sedayu, Gresik pertengahan abad ke-16)
Nama aslinya Raden Kosim atau Syarifudin tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu.Menurut Silsilah, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai enam saudara seayah seibu diantaranya Siti Syareat (istri Raden Usman Haji), Siti Mutma’innah (Istri Raden Muhsin), Siti Sofiah (istri Raden Usman Ahmad, Sunan Malaka), dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), disamping itu ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku atau Sunan Giri), Istrinya sendiri Dewi Sifiyah adalah putri Sunan Gunung Jati. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakis miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.
F.     Sunan Kalijaga (akhir Abad ke-14 Pertengahan abad ke-15)
Terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa Asli. Nama Kalijaga konon berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan. Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Nama Asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta yang menjadi bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Daerah operasi dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena sistem dajwahnya yang intelek dan aktual maka para bangsawan dan cendekiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa, berdakwahnya tidak monoton, sesekali diisi dengan cerita-cerita humor yang mendidik, sekaligus menarik perhatian. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan kesusastraan. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diiberi motif burung. Burung dalam bahasa Kawi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam Bahasa Arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” dan menjadi salah satu ajaran etik Sunan Kalijaga melalui corak batik.
G.    Sunan Kudus (Abad ke-15 – Kudus 1550)
Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Kadang-kadang ia dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir). Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora. Menurut silsilah Sunan Kudus masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Silsilah selengkapnya : Ja’far Sadiq bin Raden Usman Haji bin Raden Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid Husein bin Ali ra. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya dan dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, tafsir, serta logika. Karena itulah diantara Walisongo hanya ia yang mendapat julukan Wal Al-ilmi (orang yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Disamping menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.
H.    Sunan Muria (abad ke-15 – abad ke-16)         
Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan Islam di pedesaan Pulau Jawa adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Said, atau Raden Said sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang). Sunan Muria juga terkenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam mendirikan Masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan tembang dakwah Sinon dan Kinanti.
I.       Sunan Gunung Jati (Mekah, 144-Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat 1570)[8]
Salah seorang dari Walisongo yang bayak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa terutama di Jawa Barat juga pendiri kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah dialah pendiri Dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan satu putri, masing-masing bernama Raden Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Raja Sengara. Setelah Nyai Subang Larang wafat, Raden Walangsungsang keluar dari keraton tidak lama setelah itu adik perempuannya menyusul. Keduanya belajar agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Jati Ngamparan Jati. Setelah 3 tahun belajar, mereka diperintahkan gurunya utuk ibadah haji ke Mekah. Di Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah) seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani Hasyim. Setelah menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan yang kemudian berkembang menjadi Cirebon. Sementara itu Nyai Larang Santang melahirkan Syarif Hidayatullah setelah dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Dia kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana. Setelah pamannya itu wafat, ia menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan, ia kemudian terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Menurut Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Jati sebagai salah seorang Walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa seperti Kerajaan Demak dan Pajang. Karena kedudukannya sebagai raja dan ulama ia diberi gelar Raja Pandita.
Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun, satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, jika tidak dalam ikatan darah juga karena pernikahan atau dalam hubungan guru-murid. Mereka adalah intelektual yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya. 

Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga / perdagangan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

2.6. Teori-Teori Masuknya Islam di Indonesia
1.      Teori Arab
Teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, atau tepatnya Hadramaut. Teori ini dikemukakan Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), De Hollander (1861), dan Veth (1878). Crawfurd menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, meskipun ia menyebut adanya hubungan dengan orang-orang Mohameddan di India Timur. Keyzer beranggapan bahwa Islam datang dari Mesir yang bermadzhab Syafii, sama seperti yang dianut kaum muslimin nusantara umumnya. Teori ini juga didukung oleh Niemann dan de Hollander, tetapi dengan menyebut Hadramaut, bukan Mesir, sebagai sumber datangnya Islam, sebab muslim Hadaramaut adalah pengikut madzhab Syafii seperti juga kaum muslimin nusantara. Sedangkan Veth hanya menyebut orang-orang Arab, tanpa menunjuk asal mereka di Timur Tengah maupun kaitannya dengan Hadramaut, Mesir atau India. Teori yang sama juga diajukan oleh Hamka dalam seminar ‘Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 1962. Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab (Makkah), bukan dari India.[9]

2.      Teori Gujarat.
Teori yang mengatakan bahwa Islam di nusantara datang dari India pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel tahun 1872. Berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatan perjalanan Sulaiman, Marcopolo, dan Ibnu Batutah, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermadzhab Syafii dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Dia mendukung teorinya ini dengan menyatakan bahwa, melalui perdagangan, amat memungkinkan terselenggaranya hubungan antara kedua wilayah ini, ditambah lagi dengan umumnya istilah-istilah Persia yang dibawa dari India, digunakan oleh masyarakat kota-kota pelabuhan Nusantara. Teori ini lebih lanjut dikembangkan oleh Snouk Hurgronye yang melihat para pedagang kota pelabuhan Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam ke wilayah nusantara. Teori Snock Hurgronye ini lebih lanjut dikembangkan oleh Morrison pada 1951. Dengan menunjuk tempat yang pasti di India, ia menyatakan dari sanalah Islam dating ke nusantara. Ia menunjuk pantai Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang muslim dalam pelayaran mereka menuju nusantara.[10]
3.      Teori Benggali.
Teori ketiga yang dikembangkan Fatimi menyatakan bahwa Islam datang dari Benggali (Bangladesh). Dia mengutip keterangan Tome Pures yang mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali atau keturunan mereka. Dan, Islam muncul pertama kali di semenanjung Malaya dari arah pantai Timur, bukan dari Barat (Malaka), pada abad ke-11, melalui Kanton, Phanrang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Ia beralasan bahwa doktrin Islam di semenanjung lebih sama dengan Islam di Phanrang, elemen-elemen prasasti di Trengganu juga lebih mirip dengan prasasti yang ditemukan di Leran. Drewes, yang mempertahankan teori Snouck, menyatakan bahwa teori Fatimi ini tidak bisa diterima, terutama karena penafsirannya atas prasasti yang ada dinilai merupakan perkiraan liar belaka. Lagi pula madzhab yang dominan di Benggali adalah madzhab Hanafi, bukan madzhab Syafii seperti di semenanjung dan nusantara secara keseluruhan.

4.      Teori Persia.
Teori keempat tentang kedatangan Islam di nusantara adalah teori Persia. Pembangun teori ini di Indonesia adalah Hoesein Djayadiningrat. Fokus pandangan teori ini tentang masukkanya agama Islam ke nusantara berbeda dengan teori India dan Arab, sekalipun mempunyai kesamaan masalah Gujaratnya, serta Madzhab Syafii-nya. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia.
Kesamaan kebudayaan ini dapat dilihat pada masyarakat Islam Indonesia antara lain : Pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syiah atas kematian syahidnya Husain. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan-Husain. Di Sumatera Tengah sebelah Barat, disebut bulat Tabut, dan diperingati dengan mengarak keranda Husain untuk dilemparkan ke sungai atau ke dalam perariran lainnya. Keranda tersebut disebut tabut diambil dari bahasa Arab.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran syaikh Siti Jenar dengan ajaran sufi al-Hallaj, sekalipun al-Hallaj telah meninggal pada 310 H/922 M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian al-quran tingkat awal. Dalam bahasa Persi Fathah ditulis jabar-zabar, kasrah ditulis jer-zeer, dhammah ditulis p’es-py’es. Huruf sin yang tidak bergigi berasal dari Persia, sedangkan sin bergigi berasal dari Arab.
Keempat, nisan pada makam  Malikus Saleh (1297) dan makam Malik Ibrahim (1419) di Gresik dipesan dari Gujarat. Dalam hal ini teori Persia mempunyai kesamaan mutlak dengan teori Gujarat. Tetapi sangat berbeda jauh dengan pandangan CE Morisson.
Kelima, pengakuan umat Islam Indonesia terhadap madzhab Syafii sebagai madzhab yang paling utama di daerah Malabar. Dalam masalah madzhab Syafii, Hoesein Djayadiningrat mempunyai kesamaan dengan GE Morrison, tetapi berbeda dengan teori Makkah yang dikemukakan oleh Hamka. Hoesein Djayadiningrat di satu pihak melihat salah satu budaya Islam Indonesia kemudian dikaitkan dengan kebudayaan Persia, tetapi dalam memandang madzhab Syafii terhenti ke Malabar, tidak berlanjut dihubungkan dengan pusat madzhab Syafii di Makkah.

5.      Teori Cina.
Islam disebarkan dari Cina telah dibahas oleh SQ Fatimi. Beliau mendasarkan torinya ini kepada perpindahan  orang-orang Islam dari Canton ke Asia tenggara sekitar tahun 876 . Perpindahan ini dikarenakan adanya pemberontakan yang mengorbankan hingga 150.000 muslim. Menurut Syed Naguib Alatas, tumpuan mereka adalah ke Kedah dan Palembang.
Hijrahnya mereka ke Asia Tenggara telah membantu perkembangan Islam di kawasan ini. Selain Palembang dan Kedah, sebagian mereka juga menetap di Campa, Brunei, pesisir timir tanah melayu (Patani, Kelantan, Terengganu dan Pahang) serta Jawa Timur.
Bukti-bukti yang menunjukan bahwa penyebaran Islam dimulai dari Cina adalah ditemukannya:
1.      Batu nisan syekh Abdul Kadir bin Husin syah Alam di Langgar,
2.      Batu bertulis Phan-rang di Kamboja bertahun 1025 M,
3.      Batu  nisan di pecan Pahang bertahun 1028 M,
4.      Batu nisan puteri Islam Brunei bertahun 1048 M,
5.      Batu bersurat Trengganu bertahun 1303 M dan
6.      Batu nisan Fathimah binti Maimun di Jawa Timur bertarik 1082 M.


BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate.
Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.


DAFTAR PUSTAKA
Thohir, Ajid, 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta. PT.RajaGrafindo Persada
Sy, Wahid,2008. Sejarah Kebudayaan Islam. Bandung. Cv.Armico
Zainuddin, 2005.Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta. Friska Agung Insani
Hamzah, Yusuf, 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Tasikmalaya. Fakultas Tarbiyah
Rais, Mahmud, 1986. Perjuangan Walisanga Babad Cirebon (Pasundan). Cirebon.
Gadjahnata, 1984. Masuk dan Berkembangnya Islam Di Sumater Selatan. Jakarta. UI-Press
Jailani, Dede, dkk 2011. Materi Ajar dan Lembar Kerja Ilmu Pengetahuan Sosial. Tasikmalaya. MGMP Ciawi
Zuhri, Saifuddin, 1979.Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya Di Indonesia. Bandung. PT.Al-Ma’arif.
Junus, Mahmud, 1960. Sedjarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Djakarta. Pustaka Mahmudiah.
Zuhairini, 1992. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara.











[1] Yusuf Hamzah,Sejarah Pendidikan Islam,(Tasikmalaya:2011) hal:32
[2] Yusuf Hamzah,Sejarah Pendidikan Islam,(Tasikmalaya:2011),hal:32
[3] Gadjahnata,Sri-Edi Swasono,Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan,(Jakarta:UI-Press,1986)hal:v
[4] Ajid Thohir,Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam,(Jakarta:RajaGrafindo,2004)hal:291
[5] Dede Jailani,Materi Ajar dan Lembar Kerja Ilmu Pengetahuan Sosial,(Tasikmalaya:MGMP Ciawi,2011)hal:61 
[6] Dede Jailani,Materi Ajar dan Lembar Kerja Ilmu Pengetahuan Sosial,(Tasikmalaya:MGMP Ciawi,2011)hal:61
[7] Saifuddin Zuhri,Sejarah Kebangkitan Islam,(Bandung:PT.Al-Ma’arif,1979)hal:247
[8] Mahmud Rais,Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (Pasundan),(Cirebon:1957) hal:22
[9]  filzahazny.wordpress.com(2008)teori-masuknya-islam-ke-indonesia
[10] filzahazny.wordpress.com(2008) teori-masuknya-islam-ke-indonesia