BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Dibeberapa
catatan sejarah nasional dilaporkan bahwa,masyarakat Indonesia mengalami
beberapa tahapan atau periodesasi dalam penyebaran agama. Periodesasi itu
sangat bergantung pada siapa yang menjadi raja atau penguasa di wlayah
kekuasaannya. Paling tidak ada tiga kerajaan besar yang sangat berpengaruh dan
pernah menguasai kepulauan Nusantara ini. Ketiga kerajaan itu masing-masing
adalah:
1.
Kerajaan sriwijaya yang
menguasai wilayah kekuasaan di daertah Sumatera Selatan
2.
Kerajaan Siliwangi yang
menguasai wilayah Jawa Barat dan sabagian Lampung
3.
Kerajaan Majapahit yang
menguasai eilayah Jawa,terutama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa
Tengah
Dilaporkan
juga oleh para sejarawan bahwa,ketiga kerajaan besar tersebut pada masanya
sangat berperan dalam melakukan penyebaran agama yang dianut oleh diri dan
keluarganya kepada masyarakat. Kenyataan ini juga dilakukan oleh kerajaan
muslim yang berkuasa pada masa jayanya dalam menyebarkan agama Islam bagi
masyarakatnya. Dan salah satu sarana yang digunakan dalam memperluas jaringan
informasi dan pengetahuan keagamaan yang dianutnya adalah lembaga
pendidikan,baik pendidikan dalam bentuk formal ataupun non formal. Karenanya
Para raja dengan sistem kerajaannya itu,begitu juga dengan raja-raja
muslim,dalam setiap pertemuan dengan masyarakatnya seringkali memanfaatkan
lembaga-lembaga pendidikan untuk dijadikan sebagai tempat penyampaian informasi
progam kerja sekaligus sebagai sarana penyebaran agama yang dianutnya.
Pada
bagian ini akan diuraikan tentang periodesasi penyebaran dan pendidikan Islam
yang dilakukan para raja muslim di wilayah kekuasaannya masing-masing.
Sejarah
pendidikan islam di Indonesia sebelum indonesia merdeka,adalah berdasarkan
kedaerahan dan belumlah berpusat seperti sekarang ini.Sebab itu tiap-tiap
daerah melancarkan pendidikan dan pengajaran islam menurut keadaan daerahnya
masing-masing.
Pendidikan
islam di Jawa berlainan keadaannya dengan di Sumatera dan berlainan pula dengan
di Sulawesi,Kalimantan,Maluku,dan lain-lain.
Sebagaimana
juga di Sumatera,maka agama islam mulai tersiar di Jawa dari pelabuhan dan
bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dengan luar negeri, misalnya Sunda Kelapa (Jakarta), Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan lain-lain.
Para
pedagang Indonesia di tempat-tempat tersebut dan sekitarnya(tahun 1400) sudah
mendengarkan dan mengetahui alakadarnya tentang didikan dan ajaran
islam.Pedagang-pedagang Jawa(Indonesia) yang pulang pergi berlayar antara Jawa
dan Maluku (yang telah menjadi pusat penyebaran islam), banyak juga yang telah
memeluk agama islam.Dengan demikian keluarga mereka di bandar-bandar tersebut
memeluk agama baru pula..Pedagang-pedagang asing pun,seperti bangsa Tionghoa, banyak pula yang sudah
memeluk agama islam,sehingga lambat laun perniagaan di pulau Jawa pindahlah ke
tangan kaum muslimin.
Bupati-bupati
di pesisir dan orang-orang bangsawan banyak pula yang masuk agama Islam.Biasanya,jika
para bupati dan kaum bangsawan telah memeluk agama islam,maka mudah sekali
agama itu meluas di kalangan rakyat.
Dengan
demikian,banyaklah bandar-bandar berpenduduk kaum muslimin.
1.2.Rumusan
Masalah
A. Bagaimana
keadaan masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi?
B. Bagaimana
sejarah masuknya Islam di Nusantara?
C. Bagaimana
proses Islamisasi di Nusantara?
D. Bagaimana
pertumbuhan dan perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara?
E. Siapakah
tokah yang berperan penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia?
F. Apa
saja teori-teori masuknya Islam di Nusantara?
1.3.Tujuan
Penuliasan
A. Menjelaskan
keadaan masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi.
B. Menjelaskan
sejarah masuknya Islam di Nusantara.
C. Menjelaskan
proses Islamisasi di Nusantara.
D. Menjelaskan
pertumbuhan dan perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara.
E. Menyebutkan
tokoh yang berperan penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia.
F. Menyebutkan
teori-teori masuknya Islam di Nusantara.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Masyarakat Indonesia sebelum Islamisasi
Tercatat
dalam sejarah bahwa,pada tahun 1500 S.M terjadi perpindahan bangsa Asia
Tenggara menuju ke selatan sampai ke Malaya dan berakhir di kepulauan
Nusantara. Di kepulauan Nusantara inilah,mereka menyebar dan sebagian ada yang
menetap di berbagai pelosok,pembauran dan pembaharuan yang dilakukan antara
mereka dengan penduduk asli inilah yang kemudian dikenal sebagai nenek moyang
bangsa Indonesia. Keahlian yang dimiliki nenek moyang kita dan hingga saat ini
masih dilestarikan oleh masyarakat Indonesia adalah,antara lain bercocok
tanam,berburu membuat perahu dan melaut menjadi nelayan. Namun,dalam sejarah
peradaban Islam,mereka masih disebut sebagai masyarakat primitif (al-jahl).
Istilah primitif adalah sebutan bagi masyarakat yang belum bisa baca tulis
akasara.
Agama nenek moyang kita saat itu
adalah,mempercayai roh atau jiwa (Latin=anima). Mengapa mereka mempercayai
adanya roh atau jiwa? Karena yang nampak dan dialamimya saat itu baru berkisah
tentang peristiwa hidup dan atau mati, mimpi atau sesuatu yang mengganggu
kehidupannya. Kepercayaan mereka terhadap
anima inilah yang disebut sebagai animisme (anima=jiwa,dan
isme=kepercayaan). Kepercayaan itu meliputi:
a.
Bahwa di dunia tidak
ada benda yang tidak berjiwa,kesemuanya itu hidup karena jiwa;
b.
Bahwa yang terpenting
adalah jiwa dan bukan benda (inateri),karena tanpa jiwa maka semuanya akan
mati;
c.
Bahwa makhluk yang
tidak berwujud itu ada,yang disebut jin,atau hantu dan lainnya yang terdapat di
mana-mana;
d.
Bahwa
matahari,bulan,bintang-bintang yang bergerak dan bercahaya karena mempunyai jiwa.
Berdasarkan
pada keeempat hal tersebut di atas,dapat dikemukakan bahwa animisme adalah
suatu bentuk kepercayaan terhadap roh yang bersemayam,tidak hanya pada manusia
saja tetapi juga pada setiap benda disinggahi roh manusia yang telah meninggal.
2.2. Sejarah masuknya Islam di Nusantara
Dibawah
ini telah ditemukan beberapa pendapat mengenai masuknya islam di Indonesia,
diantaranya:
Menurut
pendapat yang disimpulkan dalam seminar masuknya islam ke Indonesia yang
diselenggarakan di Medan pada 1986,
Islam masuk ke
Indonesia pada abad pertama Hijrah,atau abad ketujuh/kedelapan Masehi.Ini
mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang
bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau
1082 M.
Sebagian
ahli sejarah mengatakan bahwa agama islam masuk ke daerah Aceh pada pertengahan
abad 12 Masehi.Sebagian mereka berpendapat bahwa islam telah masuk ke Aceh
sebelum abad 12 Masehi.Alasannya ialah karena pada abad ke 12 itu telah banyak
ahli-ahli agama yang termasyhur di aceh.Hal itu menunjukan bahwa islam telah
masuk ke daerah aceh sebelu abad 12.Karena tidak mungkin islam baru masuk,lau
lahir orang-orang ahli dalam islam itu.
Pendapat
ini dikuatkan lagi dengan keterangan sebagian ahli sejarah,bahwa orang
Arab/Islam telah mengenal pulau Sumatera dalam abad kesembilan.Oleh sebab itu
banyak diantara mereka itu datang ke Sumatera dan ke pulau-pulau Indonesia yang
lain untuk berniaga.Sungguh pun mereka datang ke Indonesia dengan maksud hendak
berniaga,tetapi mereka tidak lupa memegang Al-Qur’an.Dalm usaha
perniagaan,mereka menyiarkan agama islam kepada penduduk negeri.Dengan
berangsur-angsur penduduk negeri tertarik kepada agama Islam,lalu mereka
memeluk agama islam itu.Sebab itu,tidak heran,bahwa agama islam telah masuk ke
daerah Aceh sebelum abad keduabelas.
Umumnya,ahli sejarah memastikan
masuk ke daerah Aceh itu dengan perjalanan Marco Polo.Dalam perjalanannya
pulang ke Tiongkok,ia singgah di Aceh pada tahun 1292 Masehi.Menurut
keterangannya di Perlak telah didiapatnya masyarakat yang beragama islam.Perlak
adalah pelabuhan besar di Aceh pada masa itu,yang menghadap ke Selat Malaka.
Begitu
juga dengan perjalanan Ibnu Bathutha,pengembara Maghribi yang masyhur (thn.725
H=1325M).Dalam perjalanannya pulang pegi ke Tiongkok,ia singgah di Pase.
Pada
masa itu Pase telah menjadi kerajaaan Islam di bawah perintah Raja bernama
Al-Malikuz-Zahir.Kemudian Ibnu Bathutha dalam buku perjalanannya telah
menyaksikan bahwa Raja Samudera Pasai (yang terkenal dengan Jawa di tanah Arab)
itu bermadzhab syafi’i.Madzhab Syafi’i yang terbesar pada zaman ituialah di
Mesir.Dan raja itu selalu mengikuti musyawarah ulama-ulama Syafi’i yang ada
dalam kerajaannya.
2.3. Proses Islamisasi di Nusantara
Proses Islamisasi di Nusantara
dilakukan dengan cara damai, diantaranya:
1.Perdagangan
Seperti halnya penyebaran agama
Hindu-Buddha, kaum pedagang mempunyai peranan penting dalam proses penyebaran
agama Islam, baik pedagang dari
luar Indonesia maupun para pedagang Indonesia.Proses
perdagangan ini melalui dua jalur,yaitu darat dan laut.
a. Jalur Darat;
Para pedagang Islam melintasi
jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah,
sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan
kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra
karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan
adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina.
b. Jalur Laut;
Perdagangan yang dilakukan melalui
jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut
berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah
berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di
jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay (Gujarat), Chittagong di Teluk
Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat
penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
2.Melalui Perkawinan
Para pedagang muslim yang datang di
Indonesia, ada sebagian di antara mereka yang kemudian menetap di kota-kota
pelabuhan dan membentuk perkampungan yang disebut Pekojan. Perkawinan antara
putri bangsawan dan pedagang muslim akhirnya berlangsung. Perkawinan ini
dilakukan secara Islam, yaitu
dengan mengucapkan (menirukan) dua kalimat syahadat. Upacara perkawinan
berjalan dengan mudah karena tanpa pentasbihan atau upacara-upacara yang
panjang, lebar, dan mendalam.
Dalam Babad Tanah Jawa,misalnya, diceritakan
perkawinan antara Maulana Iskhak dan putri Raja Blambangan yang kemudian
melahirkan Sunan Giri, sedangkan dalam Babad Cirebon diceritakan perkawinan
putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati.
3.Melalui Pendidikan
Pendidikan dalam Islam dilakukan dalam pondok-pondok
pesantren yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau
ulama-ulama. Pesantren ini merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran
agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiai-kiai,
atau ulama-ulama. Setelah menamatkan pelajarannya di pesantren, murid-murid
(para santri) akan kembali ke kampung halamannya.
4.Melalui
Dakwah
Masyarakat
Indonesia pada umumnya menerima agama Islam dengan cara mendengarkan dakwah
dari wali, ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat.
5.Melalui
Akulturasi Kebudayaan
Untuk
mempermudah dan mempercepat perkembangan Agama Islam juga dilakukan melalui
penggabungan dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada pada suatu daerah tertentu.
Misalnya pertunjukkan wayang kulit dan kesusastraan.
2.4. Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Kepulauan
Nusantara
Setelah agama Islam banyak diminati masyarakat
di beberapa daerah di Indonesia,dan tidak sedikit para penganut Hinduisme dan
Buddhisme yang berpindah ke agama Islam lantaran prinsip dalam ajaran Islam
yang tidak mengajarkan adanya eksplanasif,maka terciptalah suasana keakraban
daiantar penganut Hinduisme dan Buddhisme. Melalui jalinan persaudaraan inilah
sehingga terjadi asimilasi dan akulturasi budaya dan ajaran. Hasilnya,semakin lama
persaudaraan ini terjalin dan dikembangkan maka semakin banyak para penganut
agama Hindu dan Budha yang tertarik dan berpindah ke agama Islam. Sehingga di
beberapa daerah-daerah tertentu,sebagian masyarakatnya telah menganut agama
Islam.
Bagi masyarakat Jawa,tidak sulit
untuk berpindah agama dari agama Hindu dan Budha ke agama Islam. Karena para
mubaligh menggunakan cara membiarkan sisa-sisa praktek agama lama,asal udah
mengikrarkan dua kalimat syahadat sabagai tanda masuk Islam,maka keberadaannya
telah menjadi komunitas ummat Islam. Itu sebabnya,tidak mengherankan jika batu
nisan yang ditempatkan di atas setiap kuburan orang Islam yang
meninggal,padahal batu nisan adalah tradisi agama Hindu yang kemudian dalam
prakteknya telah dijadikan sebagai tradisi bagi pemeluk agama Islam.
Pada saat yang bersamaan,krajaan
Sriwijaya pada abad 7-10 M menguasai semenanjung Malaka,tetapi pada abad ke 12
kerajaan ini mulai mengalami kemunduran. Kelemahan kerajaan Sriwijaya ini
dimanfaatkan oleh para pedagang muslim untuk mendukung daerah-daerah tertentu
yang sistem kerajaannya telah bercorak Islam seperti antara lain Kerajaan
Samudera pasai di Pesisir Timur Laut Aceh. Daerah ini sejak abad ke-7
disinggahi pedagang-pedagang muslim.
2.5. Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Islam di
Nusantara
Sebagaimana
diketahui,bahwa penyiaran dan penyebaran agama islam di Jawa pada zaman dahulu
dipelopori oleh para mubaligh Islam yang lebih dikenal dengan sebutan “wali”. Wali ialah
orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada
Allah.
Adapun jumlah wali yang
terkenal berjumlah sembilan yang dianggap merupakan kepala kelompok dari
sejumlah besar mubaligh-mubaligh Islam yang bertugas mengadakan operasi di
daerah-daerah yang belum memeluk agama islam. Para wali
ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan
atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.
Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian
diberi gelar sunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah
seperti berikut.
A.
Sunan
Gresik (Malik Ibrahim, Maulana)
Maulana
Malik Ibrahim atau Syekh Magribi yang dalam babad Jawa disebut Makdum Brahim
Asmara. Beliau adalah saudara Maulana Ishak dengan memperistri putri Campa dan melahirkan
dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Syaid Aki Murtadha atau
Raden Santri. Beliau adalah putra dari Raden Jumadil Qubro. Maulana Malik
Ibrahim datang ke Jawa tahun 1404 M yang menurut Babad Tanah Jawi bukan datang
dari Campa, tetapi menurut namanya beliau berasal dari Samarkandi di Asia
Kecil. Pernyataan dari Babad Tanah Jawi tidak bertentangan, sebab dari Asia
Kecil beliau bermukim dulu di Campa. Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama
Islam dengan cara melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat yang diajaknya.
Beliau dakwah dengan diplomasi yang ulung, tidak menyinggung perasaan orang
yang didakwahnya, bahkan membesarkan hati. Hal tersebut menunjukkan betapa
tinggi ilmu yang dimiliki oleh syekh Maulana Malik Ibrahim. Hal ini dapat
diketahui dalam kisah-kisah yang pernah dialaminya, misalnya dalam kisah
tentang Kepala perampok. Maulana Malik Ibrahim tidak turun sendiri dalam
menghadapinya, tetapi murid-muridnya saja dapat mengalahkan kepala perampok.
Maka, dapat disimpulkan betapa saktinya dia. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun
1419 M dan dimakamkan di Gresik pada nisanya terdapat tulisan Arab yang
menunjukkan bahwa dia adalah seorang penyebar agama yang cakap dan gigih. Dalam
bahasa Indonesia tulisan itu berbunyi :”inilah makam almarhum almagfur yang
berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi pada sultan dan para
menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia dan syahid cemerlangnya
simbol negara dan agama” Maulana malik ibrahim terkenal dengan nama Kake
Bantal.
B.
Sunan
Ampel (Campa Aceh, 1401- Ampel, Surabaya 1481 M)
Nama
aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya
bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan
Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di
Jawa; ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat
Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa
Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi
tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Diantara pemuda yang dididik itu
tercatat antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri,
Raden yang kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, demak,
Raden Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal dengan
nama Sunan Bonang Syaridudin yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana
Ishak yang pernah diutus ke daerah blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana
dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa.
Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa
dengan ibu kota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai
sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan
peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu Sunan Ampel juga ikut
mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain.
Ketika mendirikan Masjid tersebut, para wali mengadakan pembagian tugas. Sunan
Ampel diserahi tugas memuat salah satu dari saka guru (tiang kayu raksasa) yang
kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan
oleh Sunan Kalijaga untuk tiang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh,
tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka
tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat timur, Sunan Gunung Jati untuk
tiang sebelah barat daya, sementara bagian-bagian lain masjid dikerjakan oleh
para wali yang lain.
C.
Sunan
Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465 – Tuban 1525)
Dianggap
sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di
pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya
dengan Dewi Candrawati dan merupakan Saudara sepupuh Sunan Kalijaga. Ia
terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim (Makhdum
adalah gelar yang biasa diberikan kepada seorang ulama besar di India dan
berarti orang yang dihormati). Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh ia
memperoleh seorang putri bernama Dewi Rukhil yang kemudian diperistri Sunan
Kudus. Setelah belajar Islam di Pasai, Aceh Sunan Bonang kembali ke Tuhan, Jawa
Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya
berdatangan dari berbagai daerah. Setelah sunan Ampel wafat, pesantren yang
ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi
kekosongan itu, Sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk
membicarakan siapa yang akan memimpin pesantren tersebut. Hasil musyawarah wali
memutuskan untuk mengangkat Raden Fatah menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel.
Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah,
putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang kemudian menjadi sultan pertama
Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan “Suluk Sunan
Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang” Isi buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa
Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang
masih tersimpan di Universitas Leiden Negeri Belanda.
D.
Sunan
Giri (Blambangan, Pertengahan abad Ke-15 – Giri 1500 M)
Nama
aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata dan kadang-kadang disebut Sultan
Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishak yang ditugaskan Sunan Ampel
untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan. Salah seorang saudaranya juga
termasuk Walisongo, yaitu Raden Fatah (Sunan Gunung Jati) dan ia mempunyai
hubungan keluarga dengan Raden Fatah karena istri mereka bersaudara.Ketika
usianya beranjak dewasa, Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel
Denta (pimpinan Sunan Ampel) dan disana berteman baik degan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra
Sunan Ampel yang kemudian terkenal dengan Sunan Bonang.Dalam suatu perjalanan
ibadah haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan
di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan
dan tasawuf. Disini Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni sehingga gurunya
menganugrahinya gelar Ai Al Yaqin karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat
dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang
berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang
berjiwa agama. Misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti,
cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga dipandang sebagai orang
yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda kesultanan Demak Bintoro
(Kesultanan Demak) sebab setiap kali muncul masalah penting yang harus
diputuskan wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya.
E.
Sunan
Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar Tahun 1470 Sedayu, Gresik pertengahan
abad ke-16)
Nama
aslinya Raden Kosim atau Syarifudin tetapi karena ia dimakamkan di daerah
Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan
Sedayu.Menurut Silsilah, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua
bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai enam saudara seayah seibu diantaranya
Siti Syareat (istri Raden Usman Haji), Siti Mutma’innah (Istri Raden Muhsin),
Siti Sofiah (istri Raden Usman Ahmad, Sunan Malaka), dan Raden Maulana Makhdum
Ibrahim (Sunan Bonang), disamping itu ia mempunyai dua orang saudara seayah
lain ibu yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri
Raden Paku atau Sunan Giri), Istrinya sendiri Dewi Sifiyah adalah putri Sunan
Gunung Jati. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah
perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal
mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan.
Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakis
miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.
F.
Sunan
Kalijaga (akhir Abad ke-14 Pertengahan abad ke-15)
Terkenal
sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh berpikiran tajam,
intelek, serta berasal dari suku Jawa Asli. Nama Kalijaga konon berasal dari
rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan.
Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti
pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Nama Asli
Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya.
Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta yang menjadi bupati Tuban,
sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Daerah operasi dakwah Sunan Kalijaga
tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh ia berkeliling dari satu daerah ke
daerah lain. Karena sistem dajwahnya yang intelek dan aktual maka para
bangsawan dan cendekiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan
masyarakat awam, bahkan penguasa, berdakwahnya tidak monoton, sesekali diisi
dengan cerita-cerita humor yang mendidik, sekaligus menarik perhatian. Jasa
Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan,
tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan
kesusastraan. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diiberi motif burung.
Burung dalam bahasa Kawi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam Bahasa
Arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” dan
menjadi salah satu ajaran etik Sunan Kalijaga melalui corak batik.
G.
Sunan
Kudus (Abad ke-15 – Kudus 1550)
Nama
aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung.
Kadang-kadang ia dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan
ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir). Sunan Kudus adalah
putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora.
Menurut silsilah Sunan Kudus masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi
Muhammad SAW. Silsilah selengkapnya : Ja’far Sadiq bin Raden Usman Haji bin
Raden Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin
Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid
Husein bin Ali ra. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan
sekitarnya dan dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama
dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, tafsir, serta logika. Karena
itulah diantara Walisongo hanya ia yang mendapat julukan Wal Al-ilmi (orang
yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak
penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Disamping menjadi juru dakwah,
Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh
dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan sekaligus pemimpin agama di
daerah tersebut.
H.
Sunan
Muria (abad ke-15 – abad ke-16)
Salah
seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan Islam di pedesaan Pulau
Jawa adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Said, atau Raden Said
sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama
Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung
Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang). Sunan Muria juga terkenal
sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam
mendirikan Masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan
tembang dakwah Sinon dan Kinanti.
I.
Sunan
Gunung Jati (Mekah, 144-Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat 1570)
Salah
seorang dari Walisongo yang bayak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa
terutama di Jawa Barat juga pendiri kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif
Hidayatullah dialah pendiri Dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.
Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan
Prabu Siliwangi dengan nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan satu putri,
masing-masing bernama Raden Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Raja Sengara.
Setelah Nyai Subang Larang wafat, Raden Walangsungsang keluar dari keraton
tidak lama setelah itu adik perempuannya menyusul. Keduanya belajar agama Islam
kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Jati Ngamparan Jati.
Setelah 3 tahun belajar, mereka diperintahkan gurunya utuk ibadah haji ke
Mekah. Di Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud
(Syarif Abdullah) seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani Hasyim. Setelah
menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang kembali ke Jawa dan menjadi juru
labuhan di Pasambangan yang kemudian berkembang menjadi Cirebon. Sementara itu
Nyai Larang Santang melahirkan Syarif Hidayatullah setelah dewasa, Syarif
Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Dia
kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana.
Setelah pamannya itu wafat, ia menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil
meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan, ia kemudian terkenal
dengan gelar Sunan Gunung Jati. Menurut Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung
Jati sebagai salah seorang Walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain
di Jawa seperti Kerajaan Demak dan Pajang. Karena kedudukannya sebagai raja dan
ulama ia diberi gelar Raja Pandita.
Para Walisongo
tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun, satu sama lain mempunyai
keterkaitan erat, jika tidak dalam ikatan darah juga karena pernikahan atau
dalam hubungan guru-murid. Mereka adalah intelektual yang menjadi pembaru
masyarakat pada masanya.
Pengaruh
mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat
Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga / perdagangan, kebudayaan,
kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
2.6.
Teori-Teori Masuknya Islam di Indonesia
1.
Teori Arab
Teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab,
atau tepatnya Hadramaut. Teori ini dikemukakan Crawfurd (1820), Keyzer (1859),
Niemann (1861), De Hollander (1861), dan Veth (1878). Crawfurd
menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, meskipun ia menyebut adanya
hubungan dengan orang-orang Mohameddan di India Timur. Keyzer beranggapan
bahwa Islam datang dari Mesir yang bermadzhab Syafii, sama seperti yang dianut
kaum muslimin nusantara umumnya. Teori ini juga didukung oleh Niemann
dan de Hollander, tetapi dengan menyebut Hadramaut, bukan Mesir,
sebagai sumber datangnya Islam, sebab muslim Hadaramaut adalah pengikut madzhab
Syafii seperti juga kaum muslimin nusantara. Sedangkan Veth hanya
menyebut orang-orang Arab, tanpa menunjuk asal mereka di Timur Tengah maupun
kaitannya dengan Hadramaut, Mesir atau India. Teori yang sama juga diajukan
oleh Hamka dalam seminar ‘Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 1962.
Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab (Makkah), bukan dari
India.
2.
Teori Gujarat.
Teori yang mengatakan bahwa Islam di nusantara datang dari
India pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel tahun 1872.
Berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatan perjalanan Sulaiman, Marcopolo,
dan Ibnu Batutah, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermadzhab Syafii
dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Dia
mendukung teorinya ini dengan menyatakan bahwa, melalui perdagangan, amat
memungkinkan terselenggaranya hubungan antara kedua wilayah ini, ditambah lagi
dengan umumnya istilah-istilah Persia yang dibawa dari India, digunakan oleh
masyarakat kota-kota pelabuhan Nusantara. Teori ini lebih lanjut dikembangkan
oleh Snouk Hurgronye yang melihat para pedagang kota pelabuhan Dakka di India
Selatan sebagai pembawa Islam ke wilayah nusantara. Teori Snock Hurgronye ini
lebih lanjut dikembangkan oleh Morrison pada 1951. Dengan menunjuk tempat yang
pasti di India, ia menyatakan dari sanalah Islam dating ke nusantara. Ia
menunjuk pantai Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang
muslim dalam pelayaran mereka menuju nusantara.
3.
Teori Benggali.
Teori ketiga yang dikembangkan Fatimi menyatakan bahwa Islam
datang dari Benggali (Bangladesh). Dia mengutip keterangan Tome Pures yang
mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali
atau keturunan mereka. Dan, Islam muncul pertama kali di semenanjung Malaya
dari arah pantai Timur, bukan dari Barat (Malaka), pada abad ke-11, melalui
Kanton, Phanrang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Ia beralasan bahwa doktrin
Islam di semenanjung lebih sama dengan Islam di Phanrang, elemen-elemen
prasasti di Trengganu juga lebih mirip dengan prasasti yang ditemukan di Leran.
Drewes, yang mempertahankan teori Snouck, menyatakan bahwa teori Fatimi ini
tidak bisa diterima, terutama karena penafsirannya atas prasasti yang ada
dinilai merupakan perkiraan liar belaka. Lagi pula madzhab yang dominan di
Benggali adalah madzhab Hanafi, bukan madzhab Syafii seperti di semenanjung dan
nusantara secara keseluruhan.
4.
Teori Persia.
Teori keempat tentang kedatangan Islam di nusantara adalah
teori Persia. Pembangun teori ini di Indonesia adalah Hoesein Djayadiningrat.
Fokus pandangan teori ini tentang masukkanya agama Islam ke nusantara berbeda
dengan teori India dan Arab, sekalipun mempunyai kesamaan masalah Gujaratnya,
serta Madzhab Syafii-nya. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya kepada
kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan
mempunyai persamaan dengan Persia.
Kesamaan kebudayaan ini dapat dilihat pada masyarakat Islam
Indonesia antara lain : Pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai
hari peringatan Syiah atas kematian syahidnya Husain. Peringatan ini berbentuk
pembuatan bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut bulan
Hasan-Husain. Di Sumatera Tengah sebelah Barat, disebut bulat Tabut, dan
diperingati dengan mengarak keranda Husain untuk dilemparkan ke sungai atau ke
dalam perariran lainnya. Keranda tersebut disebut tabut diambil dari bahasa
Arab.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran syaikh Siti
Jenar dengan ajaran sufi al-Hallaj, sekalipun al-Hallaj telah meninggal pada
310 H/922 M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga
memungkinkan syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam mengeja huruf
Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian al-quran tingkat awal.
Dalam bahasa Persi Fathah ditulis jabar-zabar, kasrah ditulis jer-zeer, dhammah
ditulis p’es-py’es. Huruf sin yang tidak bergigi berasal dari Persia, sedangkan
sin bergigi berasal dari Arab.
Keempat,
nisan pada makam Malikus Saleh (1297) dan makam Malik Ibrahim (1419) di
Gresik dipesan dari Gujarat. Dalam hal ini teori Persia mempunyai kesamaan
mutlak dengan teori Gujarat. Tetapi sangat berbeda jauh dengan pandangan CE
Morisson.
Kelima,
pengakuan umat Islam Indonesia terhadap madzhab Syafii sebagai madzhab yang
paling utama di daerah Malabar. Dalam masalah madzhab Syafii, Hoesein
Djayadiningrat mempunyai kesamaan dengan GE Morrison, tetapi berbeda dengan
teori Makkah yang dikemukakan oleh Hamka. Hoesein Djayadiningrat di satu pihak
melihat salah satu budaya Islam Indonesia kemudian dikaitkan dengan kebudayaan
Persia, tetapi dalam memandang madzhab Syafii terhenti ke Malabar, tidak
berlanjut dihubungkan dengan pusat madzhab Syafii di Makkah.
5.
Teori Cina.
Islam disebarkan dari Cina telah dibahas oleh SQ Fatimi.
Beliau mendasarkan torinya ini kepada perpindahan orang-orang Islam dari
Canton ke Asia tenggara sekitar tahun 876 . Perpindahan ini dikarenakan adanya
pemberontakan yang mengorbankan hingga 150.000 muslim. Menurut Syed Naguib
Alatas, tumpuan mereka adalah ke Kedah dan Palembang.
Hijrahnya
mereka ke Asia Tenggara telah membantu perkembangan Islam di kawasan ini.
Selain Palembang dan Kedah, sebagian mereka juga menetap di Campa, Brunei,
pesisir timir tanah melayu (Patani, Kelantan, Terengganu dan Pahang) serta Jawa
Timur.
Bukti-bukti
yang menunjukan bahwa penyebaran Islam dimulai dari Cina adalah ditemukannya:
1.
Batu nisan syekh Abdul Kadir bin Husin syah Alam di Langgar,
2. Batu bertulis Phan-rang di Kamboja bertahun
1025 M,
3. Batu nisan di pecan Pahang bertahun 1028
M,
4. Batu nisan puteri Islam Brunei
bertahun 1048 M,
5. Batu bersurat Trengganu bertahun
1303 M dan
6.
Batu nisan Fathimah binti Maimun di Jawa Timur bertarik 1082
M.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Agama islam pertama masuk ke
Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam
adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan
Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik
(Maulana Malik Ibrahim)
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi,
hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman
ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang
belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para
utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun
kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan
dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia
dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad
demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil
berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai
memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat
dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam.
Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai.
Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai
tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu
pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika
singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar
mazhab Syafi’i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum
Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa
komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah
bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082
M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari
penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M,
belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru
pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para
pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara
besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah
memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya
beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka,
Demak, Cirebon, serta Ternate.
Thomas Arnold dalam The Preaching of
Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti
halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan
damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk
ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan
lil’alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Thohir,
Ajid, 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta.
PT.RajaGrafindo Persada
Sy,
Wahid,2008. Sejarah Kebudayaan Islam. Bandung. Cv.Armico
Zainuddin,
2005.Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta. Friska Agung Insani
Hamzah,
Yusuf, 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Tasikmalaya. Fakultas Tarbiyah
Rais,
Mahmud, 1986. Perjuangan Walisanga Babad Cirebon (Pasundan). Cirebon.
Gadjahnata,
1984. Masuk dan Berkembangnya Islam Di Sumater Selatan. Jakarta. UI-Press
Jailani,
Dede, dkk 2011. Materi Ajar dan Lembar Kerja Ilmu Pengetahuan Sosial.
Tasikmalaya. MGMP Ciawi
Zuhri,
Saifuddin, 1979.Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya Di Indonesia.
Bandung. PT.Al-Ma’arif.
Junus,
Mahmud, 1960. Sedjarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Djakarta. Pustaka Mahmudiah.
Zuhairini, 1992.
Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara.
filzahazny.wordpress.com(2008)teori-masuknya-islam-ke-indonesia
filzahazny.wordpress.com(2008) teori-masuknya-islam-ke-indonesia