BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah
satu mewujudkan visi dan misi bangsa Indonesia pada masa mendatang telah
termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim
pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia,
kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisplin dan
bertanggung jawab,berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia
Indonesia.Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU
No. 17 Tahun 2007) antara lain adalah dalam mewujudkan masyarakat yang
berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan
falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah dengan
cara memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan. Upaya ini
bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan
antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal
sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan
sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral,
dan etika pembangunan bangsa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendidikan karakter ?
2. Bagaimana cara mengaplikasikannya
dalam kegiatan pembelajaran ?
3. Berikan contoh aplikasi pendidikan
karakter dalam kegiatan pembelajaran !
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian.
2. Menjelaskan cara mengaplikasikannya
dalam kegiatan pembelajaran.
3. Memberikan contoh aplikasi
pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
pendidikan karakter
Pendidikan
karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri,sesama,lingkungan,maupun kebangsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat
dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena
manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan
karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial
dan budaya yang bersangkutan. Artinya, perkembangan budaya dan karakter dapat
dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik
dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial
dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah
mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peseta didik melalui pendidikan
hati, otak, dan fisik.
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai –
nilai karakter pada peserta didik,yang mengandung komponen pengetahuan,
kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai- nilai, baik terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa,
sehingga akan terwujud insan kamil.
Adapun definisi pendidikan karakter
menurut beberapa ahli diantaranya :
1.
Menurut
Suyanto, pendidikan karakter adalah: cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,
bangsa, maupun negara.
2.
Menurut
Kamus Psikologi, adalah: kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral,
misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang
relatif tetap
3.
Menurut
Lickona, adalah: suatu
usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami,
memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
4. Menurut
Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personlitas, sifat, tabiat, temperamen,
dan watak. Sementara itu yang disebut dengan berkarakter ialah berkepribadian ,
berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.
5.
Menurut T. ramli (2003) menyatakan bahwasannya pendidikan
karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dalam
konteks pendidikan di Indonesia pendidikan karakter ialah pendidikan nilai
yakni penanaman nilai-nilai luhur yang di gali dari budaya bangsa Indonesia.
pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan
karakter ialah nilai moral universal yang dapat digali dari agama.
B. Cara mengaplikasikan pendidikan
karakterdalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan Standar Proses, yang
harus guru lakukan pada kegiatan pendahuluan adalah sebagai berikut:
1.
Menyiapkan
peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses
pembelajaran.
2.
Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang
akan dipelajari.
3.
Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai.
4.
Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus.
Ada
sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan nilai, membangun
kepedulian akan nilai, dan membantu internalisasi nilai atau karakter pada
tahap pembelajaran ini. Berikut adalah beberapa contoh.
a.
Guru
datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
b.
Guru
mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh
nilai yang ditanamkan: santun, peduli).
c.
Berdo’a, sebelum membuka pelajaran (contoh
nilai yang ditanamkan: religius).
d.
Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang
ditanamkan: disiplin, rajin).
e.
Mendo’akan siswa yang tidak hadir karena sakit
atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli).
f.
Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat
waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
g.
Menegur siswa yang terlambat dengan sopan
(contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli).
h.
Mengaitkan
materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter.
i.
Dengan
merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak
dikembangkan.
·
INTI
Inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang
dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa,
kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 41 Tahun 2007, kegiatan inti pembelajaran terbagi atas tiga
tahap, yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
1.
Eksplorasi Dalam KBBI, Eksplorasi diartikan
sebagai:
Ø Penjelajahan lapangan dng tujuan
memperoleh pengetahuan lebih banyak (keadaan), terutama sumber-sumber alam yg
terdapat di tempat itu; penyelidikan; penjajakan.
Ø Kegiatan untuk memperoleh pengalaman
baru dr situasi yg baru.
Ø Penyelidikan dan penjajakan daerah
yg diperkirakan mengandung mineral berharga dng jalan survei geologi,
survei geofisika, atau pengeboran untuk menemukan deposit dan mengetahui luas
wilayahnya. Terkait dengan proses pembelajaran, kegiatan eksplorasi adalah
kegiatan yang dilakukan siswa/peserta didik guna mendapatkan pengalaman baru di
bawah bimbingan guru. Berikut beberapa ciri proses pembelajaran pada tahap
eksplorasi
a) Melibatkan peserta didik mencari
informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan
menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber
(contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama).
b) Menggunakan beragam pendekatan
pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain (contoh nilai
yang ditanamkan: kreatif, kerja keras).
c) Memfasilitasi terjadinya interaksi
antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan
sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai,
peduli lingkungan).
d) Melibatkan peserta didik secara
aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa
percaya diri, mandiri).
e) Melibatkan peserta didik secara
aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa
percaya diri, mandiri)
2. Elaborasi,
Kegiatan elaborasi pada proses
pembelajaran adalah kegiatan siswa/peserta didik dalam menyelesaikan
tugas-tugas untuk menguasai suatu kompetensi secara tekun dan cermat di bawah
bimbingan guru. Dalam tahap elaborasi guru melakukan hal-hal berikut :
a) Membiasakan peserta didik membaca
dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna (contoh
nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis).
b) Memfasilitasi peserta didik melalui
pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik
secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya
diri, kritis, saling menghargai, santun)
c) Memberi kesempatan untuk berpikir,
menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut
(contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis).
d) Memfasilitasi peserta didik dalam
pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan:
kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab).
e) Memfasilitasi peserta didik
berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar (contoh
nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai).
f) Memfasilitasi peserta didik membuat
laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual
maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab,
percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
g)
Memfasilitasi
peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh
nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
h) Memfasilitasi peserta didik
melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan (contoh
nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
i)
Memfasilitasi
peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya
diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai,
mandiri, kerjasama).
3.
Konfirmasi
Kegiatan konfirmasi dalam pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru
bersama-sama dengan siswa dalam rangka penegasan, pengesahan, atau
pembenaran hasil eksplorasi dan elaborasi. Dalam tahap konfirmasi guru melakukan
hal-hal berikut :
a) Memberikan umpan balik positif dan
penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap
keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai,
percaya diri, santun, kritis, logis).
b) Memberikan konfirmasi terhadap hasil
eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber (contoh
nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis).
c) Memfasilitasi peserta didik
melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah
dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan).
d) Memfasilitasi peserta didik untuk
lebih jauh/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain
dengan guru :
1) Berfungsi sebagai narasumber dan
fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi
kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar (contoh nilai
yang ditanamkan: peduli, santun).
2) Membantu menyelesaikan masalah
(contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
3) Memberi acuan agar peserta didik
dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis).
4) Memberi informasi untuk
bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu).
5) Memberikan motivasi kepada peserta
didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif (contoh nilai yang
ditanamkan: peduli, percaya diri).
·
Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru :
1. Bersama-sama dengan peserta didik
dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran (contoh nilai yang
ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis).
2. Melakukan penilaian dan/atau
refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan
terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui kelebihan dan
kekurangan).
3. Memberikan umpan balik terhadap
proses dan hasil pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai,
percaya diri, santun, kritis, logis).
4. Merencanakan kegiatan tindak lanjut
dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling
dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan
hasil belajar peserta didik.
5. Menyampaikan rencana pembelajaran
pada pertemuan berikutnya.
Ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan
oleh guru untuk mendorong dipraktikkannya nilai-nilai. Pertama, guru harus
merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur
kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai
karakter yang hendak ditanamkannya. Kedua, pemberian reward kepada siswa yang
menunjukkan karakter yang dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka
yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment
yang dimaksud dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat
(misalnya classroom award) atau catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk
itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses
pembelajaran.
C.
Contoh
aplikasi pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran
|
No.
|
Ranah
Penerapan
|
Kegiatan
|
|
1.
|
Pengajaran
dan Pembelajaran
|
1.
Membuka
pelajaran dengan appersepsi tentang pendidikan karakter;
2.
Memajang
hasil karya siswa;
3.
Memberikan
reward dan award terhadap prestasi siswa;
4.
Mata
pelajaran muatan lokal;
5.
Pendidikan
karakter melalui mata pelajaran PPKn;
6.
Pendidikan
karakter melalui mata pelajaran Sastra;
|
|
2.
|
Pengembangan
Budaya Sekolah (School Culture)
|
7. Festival hari pertama sekolah (the first day festival);
8. Festival akhir tahun pelajaran;
9. Menyusun tata tertib sekolah/kelas (School/ Classroom Rules);
10. Upacara Bendera;
11. Kantin Kejujuran;
12. Hari Keluarga;
13. Bersalaman Sebelum Masuk
Kelas;
14. Membentuk Kelompok Paduan
Suara;
15. Taman Sekolah;
|
|
3.
|
Ko-Kurikuler
dan Ekstra Kurikuler
|
16.
Kebun sekolah;
17.
Kegiatan Pramuka;
18.
Kegiatan Palang Merah Remaja (PMR);
19.
Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
20.
Kelompok Cinta Alam;
21. Kelompok Membaca dan Menulis
|
|
4.
|
Kegiatan
Keseharian di Rumah dan Masyarakat
|
22.
Pelatihan
Etiket Makan;
23. Menyanyikan
lagu kebangsaan sebelum acara pertandingan sepak bola;
24.
Program
Jum’at atau Ahad Sehat;
25. Memupuk Kerjasama, tetapi Pantang
Menyontek;
26. Memupuk
Kebiasaan ”On Time” atau Tepat Waktu;
|
Sumber:
dikembangkan dari Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas, dan pengalaman pribadi.
BAB
III
PENUTUP
Pendidikan
Karakter sebenarnya merupakan element penting dalam membangun kesuksesan baik
suatu individu maupun suatu kelompok kecil bahkan kelompok besar seperti negara
sekalipun. Karakter merupakan sebuah fondasi atau bangunan dasar dalam diri
manusia. Maka kokoh tidaknya sesorang dalam mengarungi kehidupan dunia tak
luput dari kekokohan karakter yang terbentuk.
Uraian
– uraian diatas disebutkan beberapa pilar yang dapat kita pakai sebagai acuan
dalam membentuk karakter kita. Bila benar – benar dikaji pilar – pilar diatas
mempunyai maksud yang sama yaitu membentuk karakter yang baik, baik dalam segi
kecerdasan, tingkah laku, maupun urusan agama. Mengapa dengan urusan agama?
Karena bila kita mengurus urusan akhirat sudah pasti urusan dunia akan ikut,
tapi bila mengurus urusan dunia belum tentu urusan akhirat akan ikut.
Dengan
adanya berbagai pilar – pilar maupun rekomendasi – rekomendasi lain kita tak
perlu mengikutinya satu per satu melainkan harus mengikuti secara keseluruhan
namun dengan cara yang dapat kita terima secara mudah, dengan kata lain kita
hanya mengikuti maksudnya saja atau bisa saja kita mengikuti salah satu cara
atau pilar yang menurut kita mudah untuk dilakukan selama itu tidak menyimpang
dari tujuan yang seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar