Senin, 10 November 2014

PENDIDIKAN KARAKTER DAN CARA PENERAPANNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu mewujudkan visi dan misi bangsa Indonesia pada masa mendatang telah termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisplin dan bertanggung jawab,berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia.Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU No. 17 Tahun 2007) antara lain adalah dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah dengan cara memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.




B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan karakter ?
2.      Bagaimana cara mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran ?
3.      Berikan contoh aplikasi pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran !

C.     Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan pengertian.
2.      Menjelaskan cara mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Memberikan contoh aplikasi pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian pendidikan karakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,sesama,lingkungan,maupun kebangsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial  dan budaya yang bersangkutan. Artinya, perkembangan budaya dan karakter dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peseta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai – nilai karakter pada peserta didik,yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan  nilai- nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan  kamil.

Adapun definisi pendidikan karakter menurut beberapa ahli diantaranya :
1.      Menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah: cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
2.      Menurut Kamus Psikologi, adalah: kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap
3.      Menurut Lickona, adalah: suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
4.      Menurut Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personlitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. Sementara itu yang disebut dengan berkarakter ialah berkepribadian , berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.
5.      Menurut T. ramli (2003) menyatakan bahwasannya pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dalam konteks pendidikan di Indonesia pendidikan karakter ialah pendidikan nilai yakni penanaman nilai-nilai luhur yang di gali dari budaya bangsa Indonesia. pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan karakter ialah nilai moral universal yang dapat digali dari agama.

B.     Cara mengaplikasikan pendidikan karakterdalam kegiatan pembelajaran

Berdasarkan Standar Proses, yang harus guru lakukan pada kegiatan pendahuluan adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses  pembelajaran.
2.      Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
3.      Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
4.      Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan nilai, membangun kepedulian akan nilai, dan membantu internalisasi nilai atau karakter pada tahap  pembelajaran ini. Berikut adalah beberapa contoh.
a.       Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
b.      Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli).
c.        Berdo’a, sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius).
d.       Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin).
e.        Mendo’akan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli).
f.        Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
g.       Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli).
h.      Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter.
i.        Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan.

·         INTI

Inti Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
 
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta  psikologis peserta didik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007, kegiatan inti pembelajaran terbagi atas tiga tahap, yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.


1.      Eksplorasi Dalam KBBI, Eksplorasi diartikan sebagai:

Ø  Penjelajahan lapangan dng tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak (keadaan), terutama sumber-sumber alam yg terdapat di tempat itu; penyelidikan;  penjajakan.
Ø  Kegiatan untuk memperoleh pengalaman baru dr situasi yg baru.
Ø  Penyelidikan dan penjajakan daerah yg diperkirakan mengandung mineral  berharga dng jalan survei geologi, survei geofisika, atau pengeboran untuk menemukan deposit dan mengetahui luas wilayahnya. Terkait dengan proses pembelajaran, kegiatan eksplorasi adalah kegiatan yang dilakukan siswa/peserta didik guna mendapatkan pengalaman baru di bawah bimbingan guru. Berikut beberapa ciri proses pembelajaran pada tahap eksplorasi
a)      Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan  belajar dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama).
b)      Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber  belajar lain (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras).
c)      Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan).
d)     Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri).
e)      Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)

2.      Elaborasi, Kegiatan elaborasi pada proses pembelajaran adalah kegiatan siswa/peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas untuk menguasai suatu kompetensi secara tekun dan cermat di bawah bimbingan guru. Dalam tahap elaborasi guru melakukan hal-hal berikut :

a)      Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis).
b)      Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
c)      Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan  bertindak tanpa rasa takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis).
d)     Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab).
e)      Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi  belajar (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai).
f)       Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan:  jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
g)      Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
h)      Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
i)        Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama).
3.      Konfirmasi Kegiatan konfirmasi dalam pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru  bersama-sama dengan siswa dalam rangka penegasan, pengesahan, atau pembenaran hasil eksplorasi dan elaborasi. Dalam tahap konfirmasi guru melakukan hal-hal berikut :

a)      Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis).
b)      Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui  berbagai sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis).
c)      Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman  belajar yang telah dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan).
d)     Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru :
1)      Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan  peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang  baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, santun).
2)      Membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
3)      Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis).
4)      Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu).
5)      Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum  berpartisipasi aktif (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, percaya diri).

·         Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru :
1.      Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis).
2.      Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui kelebihan dan kekurangan).
3.      Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis).
4.      Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program  pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.
5.      Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.


 Ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan oleh guru untuk mendorong dipraktikkannya nilai-nilai. Pertama, guru harus merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai-nilai karakter yang hendak ditanamkannya. Kedua, pemberian reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment yang dimaksud dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat (misalnya classroom award) atau catatan  peringatan, dan sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.









C.     Contoh aplikasi pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran



No.
Ranah Penerapan
Kegiatan
1.
Pengajaran dan Pembelajaran
1.         Membuka pelajaran dengan appersepsi tentang pendidikan karakter;
2.         Memajang hasil karya siswa;
3.         Memberikan reward dan award terhadap prestasi siswa;
4.         Mata pelajaran muatan lokal;
5.         Pendidikan karakter melalui mata pelajaran PPKn;
6.         Pendidikan karakter melalui mata pelajaran Sastra;
2.
Pengembangan Budaya Sekolah (School Culture)
7.         Festival hari pertama sekolah (the first day festival);
8.        Festival akhir tahun pelajaran;
9.        Menyusun tata tertib sekolah/kelas (School/ Classroom Rules);
10.    Upacara Bendera;
11.    Kantin Kejujuran;
12.    Hari Keluarga;
13.    Bersalaman Sebelum Masuk Kelas;
14.    Membentuk Kelompok Paduan Suara;
15.    Taman Sekolah;
3.
Ko-Kurikuler dan Ekstra Kurikuler
16.      Kebun sekolah;
17.    Kegiatan Pramuka;
18.    Kegiatan Palang Merah Remaja (PMR);
19.    Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
20.    Kelompok Cinta Alam;
21.   Kelompok Membaca dan Menulis
4.
Kegiatan Keseharian di Rumah dan Masyarakat
22.     Pelatihan Etiket Makan;
23.  Menyanyikan lagu kebangsaan sebelum acara pertandingan sepak bola;
24.   Program Jum’at atau Ahad Sehat;
25.  Memupuk Kerjasama, tetapi Pantang Menyontek;
26.  Memupuk Kebiasaan ”On Time” atau Tepat   Waktu;
                 
                  Sumber: dikembangkan dari Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas, dan pengalaman pribadi.








BAB III
PENUTUP

Pendidikan Karakter sebenarnya merupakan element penting dalam membangun kesuksesan baik suatu individu maupun suatu kelompok kecil bahkan kelompok besar seperti negara sekalipun. Karakter merupakan sebuah fondasi atau bangunan dasar dalam diri manusia. Maka kokoh tidaknya sesorang dalam mengarungi kehidupan dunia tak luput dari kekokohan karakter yang terbentuk.

Uraian – uraian diatas disebutkan beberapa pilar yang dapat kita pakai sebagai acuan dalam membentuk karakter kita. Bila benar – benar dikaji pilar – pilar diatas mempunyai maksud yang sama yaitu membentuk karakter yang baik, baik dalam segi kecerdasan, tingkah laku, maupun urusan agama. Mengapa dengan urusan agama? Karena bila kita mengurus urusan akhirat sudah pasti urusan dunia akan ikut, tapi bila mengurus urusan dunia belum tentu urusan akhirat akan ikut.

Dengan adanya berbagai pilar – pilar maupun rekomendasi – rekomendasi lain kita tak perlu mengikutinya satu per satu melainkan harus mengikuti secara keseluruhan namun dengan cara yang dapat kita terima secara mudah, dengan kata lain kita hanya mengikuti maksudnya saja atau bisa saja kita mengikuti salah satu cara atau pilar yang menurut kita mudah untuk dilakukan selama itu tidak menyimpang dari tujuan yang seharusnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar